TribunSumsel/

Jumputan Gambo dari Limbah Gambir

Dulu Cuma Dibuang, Kini Limbah Gambir Hasilkan Kain Seharga Ratusan Ribu, Inilah Jumputan Gambo

Air bewarna merah itu tadinya dibuang saja, tetapi tiga bulan terakhir mulai sering dimanfaatkan sebagai

Dulu Cuma Dibuang, Kini Limbah Gambir Hasilkan Kain Seharga Ratusan Ribu, Inilah Jumputan Gambo
Tribun Sumsel
Jumputan Gambo 

TRIBUNSUMSEL.COM, SEKAYU- Jeriken berisi air limbah pengolahan gambir disusun rapi di teras rumah Azhar, warga Desa Toman, Kecamatan Babat Toman, Musi Banyuasin (Muba).

Air bewarna merah itu tadinya dibuang saja, tetapi tiga bulan terakhir mulai sering dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami untuk kain jumputan.

Jumputan pewarna alami gambir atau dikenal jumputan gambo Moeba langsung mendapatkan tempat dihati masyarakat.

Penggunaan bahan pewarna alami yang ramah lingkungan dan kualitas warna yang khas menjadi daya tarik tersendiri.

“Jeriken dari Palembang, ada 12 jeriken seluruhnya yang saya jual Rp 20 ribu per jeriken.  Ada orang Palembang yang ambil, kadang seminggu sekali. Kalau habis nanti mereka telepon dan kirim lagi jeriken kosong,” kata Azhar, petani gambir di Desa Toman saat dijumpai Tribun Sumsel bulan lalu.

Muba merupakan satu-satunya wilayah penghasil gambir di Sumsel.

Uniknya lagi, tanaman ini menurut sejarah dan pengalaman masyarakat hanya dapat tumbuh baik dan menghasilkan getah di Desa Toman saja.

Sedangkan di wilayah lain hanya dapat tumbuh tanpa menghasilkan getah atau menghasilkan getah dengan jumlah yang lebih sedikit.

Ide penggunaan limbah gambir sebagai bahan pewarna jumputan datang dari lima pemuda pada tahun 2015 lalu.

Awalnya mereka prihatin melihat petani membuang begitu saja air sisa ekstraksi gambir.

Halaman
1234
Editor: M. Syah Beni
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help