TribunSumsel/
Home »

Video

VIDEO : Genjot Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Timur, Jokowi: "Kayak Ayam Sama Telur"

Sudah menjadi rahasia umum, selama 72 tahun Indonesia merdeka, pembangunan banyak dipusatkan di Indonesia

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, pemerintahannya memprioritaskan pemerataan pembangunan di seluruh kawasan di Indonesia.

Sudah menjadi rahasia umum, selama 72 tahun Indonesia merdeka, pembangunan banyak dipusatkan di Indonesia bagian barat, terutama di Pulau Jawa.

"Dulu-dulu yang dibangun infrastruktur, selalu di Jawa. Kenapa sekarang (pembangunan) di luar Jawa? Supaya ada pemerataan, supaya ada keadilan dari Sabang sampai Merauke," kata Jokowi pada suatu kesempatan.

Jokowi membandingkan pembangunan infarstruktur di Papua dengan kawasan Indonesia bagian tengan dan barat, yang menurutnya perbandingannya jomplang sekali.

Mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini mengaku sering mendapat pertanyaan seputar urgensi pembangunan di Papua.

"Banyak yang bertanya ke saya, 'bapak itu membangun (jalan) Transpapua, apakah pertumbuhan ekonomi di Papua akan langsung naik?' Saya bilang, apakah kita nunggu pertumbuhan ekonomi di Papua, baru kita bangun jalannya? Atau kita bangun jalannya agar pertumbuhan ekonomi itu ada?" kata Jokowi disambut tepuk para hadirin.

"Ini kayak ayam dan telur aja. Tapi kalau tidak kita putuskan, ini (jalan Transpapua) enggak akan bisa dikerjakan. Orang selalu meragukan, menanyakan itu, 'bapak bangun Transpapua, apakah pertumbuhan ekonomi langsung naik?', juga belum tentu. Tapi ini masalah pemerataan dan keadilan, bukan hanya masalah ekonomi," katanya lagi.

Selain pemerataan pembangunan, lanjut Jokowi, pemerataan harga barang dan kebutuhan pokok juga akan terwujud.  

"Saya kaget 3 tahun lalu saat ke Wamena pertama kali. Saya tanya ke rakyat, 'bensin di sini berapa harganya?' Saudara tahu? 60 ribu (rupiah) perliter. Saat-saat tertentu justru malah bisa 60 ribu perliter," ungkapnya.

"Bayangkan, di Jawa hanya berapa (harga bensin)? Rp 6.450. Di Wamena, di Puncak, di Jayawijaya, harganya (bensin) bisa sampai Rp 100 ribu. Di mana keadilan? Di mana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia kalau seperti ini diteruskan?" ujarnya menjawab keraguan sejumlah pihak yang selama ini mempertanyakan manfaat pembangunan di kawasan Indonesia Timur, khususnya Papua.

"Kalau di Jawa, baru naik (harga bensin) Rp 500, demonya 4 bulan. Bener, ndak? Baru naik (harga bensin) Rp 1000, demonya 4 bulan. Coba (bayangkan) saudara-saudara kita yang ada di Pegunungan Tengah, di Wamena, berapa puluh tahun menikmati harga Rp 60 ribu sampai RP 100 ribu, diem saja. Enggak demo, enggak bicara, coba. Sedih saya melihat seperti itu," tutupnya.

Penulis: Agung Dwipayana
Editor: Melisa Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help