Menyisir 295,14 KM Pesisir Timur Ogan Komering Ilir

Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki garis pantai terpanjang di wilayah Provinsi Sumatera Selatan

Menyisir 295,14 KM Pesisir Timur Ogan Komering Ilir
ist
Bupati Kabupaten Ogan Komering Ilir, Iskandar SE 

TRIBUNSUMSEL.COM, OKI - Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki garis pantai terpanjang di wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Panjangnya mencapai 295,14 km membentang dari Air Sugihan hingga ke perbatasan Provinsi Lampung.

Penelitian arkeologis Nurhadi Rangkuti yang dipublikasikan oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud menyebutkan Jalur laut sepanjang garis pantai ini sudah terkenal sedari dulu.

Keterangan penggunan jalur pantai timur itu diperoleh dari catatan-catatan Portugis abad ke 16-17. Catatan pelaut Portugis itu menurut Rangkuti disebut dengan roteiros (buku-buku pemandu laut) yang berisi tentang catatan mengenai lautan Indonesia, terutama jalur pelayaran Selat Bangka dan pantai tenggara Sumatera.

Jalur yang dilalui para pemandu Portugis adalah sepanjang pantai OKI yang berlumpur untuk menghindari karang-karang di sepanjang pantai Bangka. Roteiros juga dilengka pi juga dengan peta-peta. Peta-peta yang dibuat Francisco Rodrigues tahun 1513 dan Andre Persira Dos Reis tahun 1654. Di peta itu juga tergambar adanya Pulau Maspari yang oleh pelaut Portugis Pulau tersebut disebut Lucipara. Teluknya digambarkan sebagai sebuah saluran yang disebut Canal de Lucipara.

Secara ekosistem pesisir Timur OKI terbagi menjadi lahan daratan (mineral) dan lahan basah (mangrove, rawa dan gambut). Hal ini dibuktikan dengan tumbuhnya berbagai kerajaan, sejak era Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, termasuk berbagai tinggalan artefak hingga permukiman yang masih dapat dijumpai jejaknya hingga saat ini.

Sempat redup pada era kolonial Belanda yang lebih memusatkan perdagangan di Batavia, wilayah ini mulai kembali dilirik pada awal abad ke-20 melalui industri karet khususnya di Wilayah Cengal Kabupaten OKI. Karet-karet tersebut dibawa melaui jalur sungai yang mengalir ke laut.

Setelah Indonesia merdeka, tepatnya selama rejim Orde Lama, kondisi masyarakat di pantai timur tidak mengalami perubahan yang signifikan dari masa kolonial Belanda. Meskipun pembangunan fisik relatif lamban dibandingkan di wilayah daratan, namun masyarakatnya cenderung makmur, lantaran kekayaan alam yang melimpah.

Baru, pada saat Orde Baru, tatanan yang ada mulai berubah, dengan dibukanya berbagai permukiman transmigrasi yang menyebar di Air Sugihan, Tulung Selapan, Sungai Menang dan Cengal. Para transmigran ini selain bersawah, menanam palawija, juga berkebun sawit.

Jurnalis dan Budayawan Taufik Wijaya (TW) yang sering keluar masuk wilayah ini mengatakan pada Tahun 1970-an, seiring dengan liberalisasi ekonomi dan “revolusi hijau”, pemerintah Orde Baru sangat gencar dengan aktifitas penebangan pohon untuk usaha perkayuan (HPH) baik legal maupun illegal dan pembukaan area persawahan.

Masa kejayaan ekonomi era boom kayu dapat dirasakan hingga  2000-an awal. Banyak orang kaya dari pantai timur. Mereka kaya dari berbisnis kayu, baik legal maupun illegal.

Halaman
1234
Editor: Melisa Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved