TribunSumsel/

Energi Positif Untuk Masyarakat

Tingginya volume sampah rumah tangga di Palembang pada tahun 2017 mencapai kurang

Energi Positif Untuk Masyarakat
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
PENGERINGAN SAMPAH ORGANIK - Seorang warga mengeringkan sampah oranik yang telah dipisah dengan sampah anorganik di Kawasan Talang Putri, Palembang, Jumat (27/10/2017). Sampah ini akan diolah menjadi pupuk organik padat dengan mesin penggilingan.

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Abriansyah Liberto

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Tingginya volume sampah rumah tangga di Palembang pada tahun 2017 mencapai kurang lebih  600 sampai 700 ton per hari , sampah yang terdiri dari sampah Organik dan Anorganik ini setiap harinya menumpuk dan berdampak buruk bagi lingkungan sehingga PT Pertamina Refenery Unit III melalui Corporate Social Responsibility (CSR) menyalurkan energy positif kepada masyarakat melalui inovasi dengan membentuk Patratura .

Patratura ini merupakan program peningkatan Kesejahteraan untuk Masyarakat, yang berbasis jaminan sosial melalui managemen pengolahan sampah yang terintegrasi. Patratura ini dikelola oleh kelompok kerja yang terdiri dari masyarakat dalam penanganan masalah sampah tersebut.

Seperti halnya yang dilakukan Maria , ketua kelompok kerajinan dari enceng gondok yang bertempat di jalan Kapten Robani Kadir, Lorong karang luhur, Kecamatan Plaju,Kelurahan talang putri ini bersama warga membuat kerajinan pernak-pernik dari enceng gondok seperti sandal,tas, kotak tisu, dompet, kotak sampah dan lain-lain. Dia mengatakan saat ini bersama warga membuat tas dari enceng gondok yang dipesan oleh konsumen dari provinsi Lampung dan kota-kota lainnya.Dengan Harga per satu tas dijual Rp 100 ribu.

Patratura selain mengelola kerajinan dari sampah juga mengelola pupuk kompos padat dan cair, pengelolaan pupuk cair ini banyak digemari ibu rumah tangga dikarenakan pembuatannya yang cukup mudah hanya dengan memasukan sampah organik yang biasanya digunakan ibu rumah tangga  dari sisa-sisa sayuran (sampah organik) ke dalam ember patrakomposter  untuk diendapkan.

Pengendapan sampah organik ini kurang lebih  selama satu bulan untuk dapat menjadi pupuk cair. Harga untuk 600 ml pupuk cair dari bahan organik ini Rp 5 ribu.

Sedangkan pupuk padai terbuat dari sampah organik yang dicampur dengan kotoran hewan, setelah itu dikeringkan dan lalu digiling dengan menggunakan alat penggiling. Pupuk padat ini dilakukan dengan swadaya oleh masyarakat sekitar.

Pupuk padat di jual Rp 15 ribu per karung. Masyarakat juga dapat menjual sampah atau melakukan penimbangan sampah di Bank sampah yang tersebar di empat kelurahan atau desa yang ditunjuk oleh Patratura, sampah plastik (Anorganik) dihargai Rp 700 per satu kilo sampah plastik.

Dari pengelolaan sampah ini secara tidak langsung  telah menciptakan lapangan pekerjaan, yang mana setiap dua minggu sekali bank sampah patratura melakukan penimbangan sampah dan penerimaan pupuk padat dan cair dari warga, sehingga warga dalam sebulan dapat menghasilkan uang dalam bentuk saldo tabungan yang dapat dipakai untuk tagihan listrik, pendidikan dan kesehatan dengan sistem reimbursement.  Sehingga dapat meringankan kebutuhan hidup sehari-hari.

PT Pertamina Persero sebagai penyelenggara CSR mewujudkan ketahanan,keadilan dan pemerataan energy di Indonesia dengan cara membangun kemandirian masyarakat di daerah pedesaaan. Program ini sendiri merupakan wujud dari pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui kerjasama dengan CSR perusahaan BUMN dalam usaha memeratakan ekonomi rakyat Indonesia. (ALT)

Halaman
123
Penulis: Abriansyah Liberto
Editor: Muhamad Edward
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help