TribunSumsel/

Terungkap, Inilah Penyebab Mengapa Premium Langka di Sumsel, Bukan Karena Tak Ada Stok, Tapi . .

Hal itu dinilai merugikan masyarakat, terlebih BPH Migas meminta hak masyarakat harus terpenuhi dan jangan

Terungkap, Inilah Penyebab Mengapa Premium Langka di Sumsel, Bukan Karena Tak Ada Stok, Tapi . .
spbu 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG- Kuota bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di Sumatera Selatan yang sudah tersalurkan oleh Pertamina MOR II periode Januari-September 2017 baru mencapai 235.712 kiloliter dari total 767.609 kiloliter.

Artinya masih tersisa sebanyak 513.712 kiloliter lagi yang tak tersalurkan.

Komite Bidang Pengawasan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ahmad Rizal mengatakan, kuota BBM premium baru terpenuhi sedikit.

Hal itu dinilai merugikan masyarakat, terlebih BPH Migas meminta hak masyarakat harus terpenuhi dan jangan mencari untung semata yang dilakukan Pertamina dan SPBU.

“Ini ada apa? kita akan menemui Pertamina dan mempertanyakan soal kelangkaan premium di Sumsel, khusunya di Kota Palembang, kalau ada temuan maka Pertamina wilayah Sumsel bisa disanksi," ujar Rizal, Kamis (19/10).

Pertamina dalam menyalurkan kuota di Palembang dinilai oleh BPH Migas hanya menyalurkan sekitar 77.430 kiloliter atau presentasenya hanya 31,34 persen jenis Premium dimana dari total kuota 247.060 kiloliter.

Hal itu sangat sedikit karena seharusnya kuota penyaluran harus mencapai 75 persen pada Oktober ini.

Menurut dia, kedatangam tim BPH Migas ini juga merupakan salah satu respon dari keluhan masyarakat di Kota Palembang dan dari berbagai pemberitaan di media soal masyarakat kesulitan mendapatkan premium.

“Banyak sekali masyarakat mengeluh soal premium yang selalu kehabisan. Selain di sini (Palembang), di kota-kota dan provinsi lain sama juga, kecuali Jawa, Madura dan Bali, karena di sana memang sudah tak mengkonsumsi premium sebagai BBM, apalagi Gubernur juga kebingungan karena kelangkaan premium," jelas dia.

Terlebih SPBU sudah banyak menghilangkan nozzle premium dengan mengganti pertalite.

Halaman
12
Penulis: Siemen Martin
Editor: M. Syah Beni
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help