TribunSumsel/

Di Depan Ratusan Mahasiswa UIN Raden Fatah, Kapolri Tito Ungkap Sejarah Namanya

Setelah menunggu sekian lama, Kapolri Jenderal Tito Karnavian akhirnya berkesempatan menjadi pembicara pada kuliah umum di kota kelahirannya..

Di Depan Ratusan Mahasiswa UIN Raden Fatah, Kapolri Tito Ungkap Sejarah Namanya
tribunsumsel.com/Agung Dwipayana
Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat menjadi pembicara pada Kongres ke-4 Dewan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (DEMA/BEM PTAI) se-Indonesia di Akademik Center UIN Raden Fatah Palembang. 

Laporan Wartawan TribunSumsel.com, Agung Dwipayana

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Setelah menunggu sekian lama, Kapolri Jenderal Tito Karnavian akhirnya berkesempatan menjadi pembicara pada kuliah umum di kota kelahirannya, Palembang.

Pada kesempatan kali ini, Kapolri menjadi pembicara pada Kongres ke-4 Dewan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (DEMA/BEM PTAI) se-Indonesia di Akademik Center UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (11/10/2017).

Kapolri menekankan pentingnya menjaga keutuhan bangsa kepada seluruh mahasiwa yang hadir.

Di salah satu potongan kalimatnya, Kapolri Tito juga sempat membeberkan sejarah nama 'Tito'.

Hal ini bermula ketika jendral bintang 4 tersebut menjelaskan mengenai perbandingan keutuhan negara Republik Indonesia (RI) dan negara-negara sahabat.

"Sejak Indonesia merdeka 72 tahun lalu, nikmat yang paling besar yakni keutuhan, tidak adanya perpecahan bangsa. Kalau kita menggunakan komparasi (perbandingan), Uni Soviet merupakan negara dengan kekuatan militer terkuat nomor 2 di dunia. Tapi ternyata mereka pecah menjadi beberapa negara pada tahun 1992," kata Tito membuka pembicaraan.

Belum selesai, Tito pun melanjutkan perumpamaannya.

"Di organisasi negara-negara non blok, Indonesia dan Yugoslavia punya cerita berbeda. Presiden Soekarno berhasil membawa Indonesia ke gerbang pintu kemerdekaan dan utuh hingga sekarang. Sedangkan Yugoslavia di bawah pemimpinnya, Josep Brostito, juga terpecah menjadi beberapa negara. Josep Brostito, dari situlah nama saya (Tito) berasal," bebernya.

Dilanjutkannya, saat ini negara Yugoslavia pecah menjadi 7 negara di antaranya Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Macedonia, Serbia, Montenegro, Slovenia dan Kosovo.

"Bangsa kita hari ini masih menyanyikan lagu Indonesia Raya. Negara Yugoslavia yang dipimpin Josep Brostito tadi, mana mau menyanyikan lagu kebangsaan karena mereka sudah terpecah," tandasnya.

Penulis: Agung Dwipayana
Editor: Melisa Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help