TribunSumsel/

Deteksi 16 Titik Hotspot, BPBD Muratara Ajak Aparat Lakukan Ini Dilapangan!

Melihat hasil pantauan ini BPBD langsung turun kelapangan guna pencegahan kebakaran hutan yang disengaja maupun tidak disengaja. Kepala BPBD Kabupate

Deteksi 16 Titik Hotspot, BPBD Muratara Ajak Aparat Lakukan Ini Dilapangan!
tribunsumsel.com/Farlin Addian
Tim hotspot BPBD Kabupaten Muratara, saat turun kelapangan meninjau titik panas yang terdeteksi dengan menggunakan kendaraan roda dua. 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Farlin Addian

TRIBUNSUMSEL.COM, MURATARA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muratara selama dua hari ini mendeteksi sedikitnya 16 titik hotspot.

Melihat hasil pantauan ini BPBD langsung turun kelapangan guna pencegahan kebakaran hutan yang disengaja maupun tidak disengaja.

Kepala BPBD Kabupaten Muratara, Zulkifli memgatakan di Muratara ini masih dalam katagori rawan titik panas, karena sudah terdeteksi 16 titik hotspot.

"Hasil deteksi dari Selasa dan Rabu ini kita lihat ada 16 titik panas yakni Kecamatan Ulu Rawas terdapat 9 titik, di Kecamatan Karang Jaya 3 titik, Kecamatan Rupit 1 dan di Kecamatan Nibung 1 titik dan di Kecamatan Rawas Ulu 2 titik," bebernya.

Namun sudah satu pekan terakhir tim hottspot Kabupaten Muratara selalu turun kelapangan memantau lokasi-lokasi yang terdeteksi titik panas guna menanggulangi kebakaran lahan dan hutan.

"Kita turun kelapangan langsung melibatkan juga Manggala Agni, KPHP Rawas, kepolisian dan TNI. Dimana kita memberikan sosialisasi kemasyarakat secara langsung agar tidak membakar lahan," ujarnya.

Pihaknya menghimbau pada masyarakat agar sadar lingkungan dan jangan membuang puntung rokok sembarangan dan jangan membuka lahan dengan cara membakar.

"Karena memasuki musim kemarau ini semua dedaunan kering mudah sekali terbakar jika terkena puntung rokok," ungkapnya.

Sementara itu, AB warga Desa Kuto Tanjung, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara, mengatakan bahwa masyarakat kebingungan jika membuka lahan tidak boleh dengan cara membakar hutan.

Sedangkan cara tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun semua petani kebun karet disetiap desa.

"Kalaupun tidak boleh, bantu solusi supaya kita membuka kebun tapi tidak membakar lahan karena selama ini pemerinta hanya mencegah tanpa memberikan solusi kepada masyarakat," katanya.

Untuk itu, diharapkan pemerintah menyediakan traktor atau alat berat kepada masyarakat agar warga membuka lahan tidak dengan cara membakar.

Penulis: Farlin Addian
Editor: Melisa Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help