TribunSumsel/

Media Sosial Mudah Menyebar Masalah Radikal, Kapolda Setuju Telegram Diblokir

Terlebih kepada pendiri Telegram juga sudah dijelaskan, sehingga sudah sangat dimengerti.

Media Sosial Mudah Menyebar Masalah Radikal, Kapolda Setuju Telegram Diblokir
Telegram

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Terkait adanya pemblokiran sosial media Telegram yang dilakukan Pemerintah karena dengan mudahnya menyebarkan masalah radikalisme, Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto setuju dengan adanya pemblokiran tersebut.

Terlebih, bila Telegram tersebut mengandung konten-konten radikalisme dan mudahnya penyebaran isu-isu radikalisme yang dapat memecah persatuan bangsa.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto
Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto (TRIBUNSUMSEL.COM/M Ardiansyah)

"Saya setuju dengan adanya pemblokiran Telegram. Itu dibuktikan adanya penyebaran masalah radikalisme, makanya diblokir pemerintah. Meski sempat ada protes, tetapi setelah dijelaskan pendiri Telegram mengerti," ujar Irjen Agung, Senin (17/7/2017).

Terlebih, dengan penjelasan Presiden Jokowi mengenai pemblokiran tersebut juga sudah sangat jelas dan bagus.

Terlebih kepada pendiri Telegram juga sudah dijelaskan, sehingga sudah sangat dimengerti.

"Kalau di China ( Tiongkok, red) bila situs atau sebagainya yang melanggar aturan mereka langsung diblokir. Itu banyak sekali," ungkap jenderal bintang dua ini.

Wartawan Jepang: Penggalangan Terorisme Berpusat di Malaysia

TRIBUNSUMSEL.COM, TOKYO - Seorang wartawan spesialis intelijen internasional Jepang, Bundarou Kuroi menilai bahwa daerah Asia tidaklah aman bagi warga Jepang terkait terorisme, baik di Indonesia dan di Malaysia.

"Negara yang dekat dengan Jepang di Asia Tenggara juga harus hati-hati, membahayakan keselamatan warga Jepang terutama dari ancaman teroris. Fokus perhatian kepada Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia," papar Bundarou Kuroi, Wartawan Intelijen Internasional lewat majalah Shukan Post edisi 10 April 2015.

Al-Qaeda dan organisasi ekstremis seperti Jemaah Islamiyah, menurutnya, sangat kuat saling terkait dan banyak berada di Indonesia, "Berkali-kali bom terjadi di Bali dan Jakarta, mengalami ancaman terorisme bom," tekannya lagi.

Meksipun demikian Kuroi melihat penggalangan terorisme tersebut berpusat di Malaysia, "Pihak berwenang Malaysia telah menangkap lebih dari 100 orang perekrut ISIS di masa lampau," tambahnya.

Diingatkannya pula, baru-baru ini, awal Maret, tiga laki-laki dan perempuan yang diduga merupakan anggota ISIS berusaha mengajak warga lain untuk tujuan dukungan ISIS ditangkap di Malaysia. keberhasilan polisi di sana.

Hal ini merupakan tanda-tanda menakutkan. Saya ingin menandai adanya Tren ekstremis Islam Abu Sayyaf, yang berbasis di Filipina selatan mulai bergerak pula."

"Kegiatan mereka harus dicatat. Demikian pula penculikan, uang tebusan yang dilakukan sebenarnya tak beda dengan bandit dan perampok. Itu sih bukan Teroris kalau sudah demikian," tekannya lagi.

Penulis: M. Ardiansyah
Editor: Hartati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help