TribunSumsel/

Jangan Tergiur Harga Murah dan Praktis Tapi Pertimbangkan Efek Buruknya Bagi Kesehatan

Anehnya, hasilnya berbeda pada peserta pria, yang oleh para ilmuwan dikaitkan dengan perbedaan biologis antara jenis kelamin.

Jangan Tergiur Harga Murah dan Praktis Tapi Pertimbangkan Efek Buruknya Bagi Kesehatan
Shutterstock
Ilustrasi mi instan. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Harganya yang terjangkau, cara memasak yang mudah serta kelezatan rasanya membuat mi instan menjadi makanan favorit di banyak negara.

Meski sangat populer, mi kering yang dikemas dengan bubuk penyedap dan minyak bumbu ini sering dikritik sebagai makanan tanpa nutrisi.

Mi instan mengandung karbohidrat dan lemak tinggi, tapi rendah protein, serat, vitamin dan mineral.

Itu sebabnya makanan instan ini punya reputasi kurang baik untuk tubuh.

Menurut World Instant Noodles Association (WINA), setidaknya ada sekitar 52 negara di seluruh dunia yang mengkonsumsi 97,7 miliar porsi mi per tahun.

Konsumen mi tertinggi adalah China dan Hong Kong, yang mengkonsumsi sekitar 40,43 miliar porsi per tahun.

Setelah itu, diikuti oleh Indonesia dengan porsi konsumsi sebanyak 13,20 miliar porsi per tahun.

Studi yang dilakukan tim dari Baylor University dan Harvard yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition mengungkapkan, bahwa sering mengonsumsi mi instan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Para periset menganalisa pola makan dan kesehatan 11.000 warga Korea Selatan yang berusia antara 19 dan 64 tahun.

Didapati bahwa wanita Korea Selatan berisiko tinggi menderita sindrom metabolik karena jumlah mi ramen yang mereka konsumsi.

Halaman
12
Editor: Hartati
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help