Pilkada DKI Jakarta

PDIP Sumsel Analisa Kekalahan Ahok-Djarot Disebabkan Faktor ini

Menyikapi hal tersebut, sejumlah pimpinan parpol yang ada di Palembang menyikapinya beragam, ada yang kecewa maupun senang dengan hasil saat ini.

PDIP Sumsel Analisa Kekalahan Ahok-Djarot Disebabkan Faktor ini
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto (kiri) menyaksikan Calon Gubernur DKI Jakarta dari PDI Perjuangan Basuki Tjahaja Purnama (tengah), dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat (kanan) menunjukkan draft kontrak politik Ketua saat pengumuman Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung PDIP untuk Pilkada Serentak 2017 di DPP PDIP, Jakarta, Selasa (20/9/2016). PDIP resmi mengumumkan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusungnya untuk Pilkada Serentak 2017 termasuk mengumumkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG,-- Hasil hitung cepat "Quick Count" menunjukkan calon gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno unggul dengan memperoleh 57,84 persen, kemudian diikuti Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat sebesar 42,16 persen suara.

Meski baru hitung cepat, kemungkinan besar hasil real count oleh KPU tidak mempengaruhi signifikan, mengingat selisih perolehan suara yang cukup jauh.

Menyikapi hal tersebut, sejumlah pimpinan parpol yang ada di Palembang menyikapinya beragam, ada yang kecewa maupun senang dengan hasil saat ini.

Namun, hasil pilihan masyarakat DKI Jakarta itu haruslah tetap dihormati.

Ketua Bapillu DPD PDI Perjuangan Sumsel Robby B Puruhita tak menampik, adanya kasus penodaan agama yang dilakukan Ahok, memberikan imbas negatif dukungan masyarakat, saat pencobloasan Pilkada DKI putaran ke 2.

"Pastilah, justru isu sara yang menjadi faktor utama, penyebab kekalahan Ahok Djarot," kata Robby kepada Tribun Sumsel, Rabu (19/4/2017) malam.

Menurut Robby, meskipun mesin partai (PDIP bersama partai koalisi), sudah sangat maksimal menggerakan mesin partai selama kampanye.

Tetapi, isu negatif yang dikatakannya digalang secara masif dan terus menerus, menjadikan hal itu tidak berarti.

"Ini juga pada akhirnya membuat mayoritas pemilih, tidak dapat melihat program- program Pemprov DKI Jakarta, yang sudah sangat-sangat baik, dan menyentuh, apa yang menjadi kebutuhan warganya tidak bergema," ujarnya.

Anggota DPRD Sumsel ini juga menganggap, meskipun calon yang diusung partainya pada Pilkada serentak 2018 ini banyak tumbang.

Dirinya melihat, hasil Pilkada DKI Jakarta belum tentu, bisa dijadikan barometer untuk Pilkada di Sumsel nantinya, yang akan melaksanakan Pilkada serentak 9 Kabupaten/ kota plus tingkat Provinsi pada 2018.

"Setiap Pilkada dan daerah, pasti punya kekhasan masing- masing, termasuk di Sumsel nanti," terangnya.

Penulis: Arief Basuki Rohekan
Editor: M. Syah Beni
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help