TribunSumsel/
Home »

Video

TKA Ilegal Luar Biasa Besar Gajinya Padahal Buruh Kasar Tenaga Kerja Lokal Cuma Dihargai UMR

Dari rilis yang dibagikan oleh koordinator, Akhir-akhir ini banyak sekali TKA ilegal masuk di wilayah lndonesia, termasuk di daerah Sumsel.

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Weni Wahyuny

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sebanyak 800 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Selatan mendatangi kantor Gubernur Sumatera Selatan, Selasa (18/7/2017).

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Sumsel menggugat maraknya peredaran TKA (Tenaga Kerja Asing) llegal di Sumsel.

Dari rilis yang dibagikan oleh koordinator, Akhir-akhir ini banyak sekali TKA ilegal masuk di wilayah lndonesia, termasuk di daerah Sumsel.

Tahun 2015, terdapat 634 orang tenaga kerja asing di Sumsel, Kota Palembang memegang jumlah tertinggi sebanyak 162 orang, diikuti oleh kabupaten OKI 156 Orang, Muara Enim 105 orang, Lahat 93 Orang dan Banyuasin 57 Orang.

Tahun ini jumlah TKA di Sumsel semakin meningkat yakni menyapai 968 orang, dan baru-baru ini ditangkap TKA llegal sebanyak 44 orangTKA illegal di Kabupaten Muara Enim dan 11 orang TKA illegal di kota Palembang.

Banyaknya TKA ilegal yang menyalahgunakan visa wisatanya untuk bekerja dan menetap di lndonesia. Bahkan yang membuat miris, ketika TKA ilegal yang bekeria adalah buruh kasar yang tidak bisa berbahasa Indonesia yang digaji 4x lipat daripada gajl tenaga kerja lokal daerah yang notabene sama-sama buruh kasar.

Dinas Ketenagakeriaan menyampaikan pada Sriwijaya Public Discussion di Universltas Sriwijaya pada 24 Februari 2017 bahwa rata-rata gaji yang diterima oleh TKA adalah Rp 8 juta per bulan sedangkan tenaga kerja lokal hanya UMR.

Data ini juga didukung dari berita yang dipublikasikan oleh salah satu media bahwa tenaga kerja lokal di kabupaten OKI mengeluh soal gaji yang diberikan kepada tenaga kerja asing lebih besar yaitu Rp550.000 per hari dan tenaga kerja lokal hanya Rp 180.000 per hari padahal produktivitas kerjanya sama saja.

Seiain masalah gaji diatas perusahaan juga menyalahi regulasl yang telah dltetapkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan, yaitu berdasarkan Mutual Recognition Arrangement (MRA) disepakati bahwa tenaga kerja asing (TKA) yang bebas bekerja di negara-negara ASEAN hanyalah mencakup delapan sektor, yaltu akuntansi, teknik, survel, arsitektur, keperawatan, kesehatan, perawatan gigi, dan pariwisata.

Halaman
12
Penulis: Weni Wahyuny
Editor: Hartati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help