Warga Sungai Ceper Akan Berhenti Rakit Senjata Api Apabila Dibangun Jalan Darat

Desa Sungai Ceper ini sangat terisolir, belum ada jalan darat, semua aktivitas melalui sungai, masyarakat mayoritas nelayan, ada lahan bisa digarap.

Warga Sungai Ceper Akan Berhenti Rakit Senjata Api Apabila Dibangun Jalan Darat
SRIPOKU.COM/MAT BODOK
SENPI - Warga Sungai Ceper melalui Kades Sungai Ceper, Mulyadi dan Suban tomas, menyerahkan senjata rakitan (Senpi) kepada Kapolres OKI AKBP Ade Harianto saat kunjungan. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG  -- Warga Desa Sungai Ceper Kecamatan Sungai Menang Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) berjanji tidak memproduksi senjata api rakitan (senpira), jika pemerintah daerah membuka jalan darat sepanjang 14 Kilometer (km) di desa setempat. Hal ini ditegaskan Kepala Desa Sungai Ceper, Mulyadi, saat tatap muka masyarakat Sungai Ceper dengan Kapolres OKI AKBP Ade Harianto, Rabu (5/4/2017) sore.

“Desa Sungai Ceper ini sangat terisolir, belum ada jalan darat, semua aktivitas melalui sungai, masyarakat mayoritas nelayan, ada sekitar 19 ribu hektar lahan yang masih kosong dan potensial bisa digarap masyarakat, tapi sayangnya belum ada jalan darat,” kata Kades Mulyadi.

Ditegaskan Kades, jika pemerintah kabupaten bisa membuka akses jalan darat di belakang Desa Sungai Ceper, masyarakat bisa beralih menjadi petani kebun dan padi.

“Kami butuh jalan darat sepanjang kurang lebih 14 km, itu untuk kebutuhan masyarakat bisa membuka lahan pertanian, jika jalan itu dibuka saya dan warga menjamin 99 persen masyarakat berhenti membuat senpi dan beralih ke pertanian,” jamin Mulyadi.

Tokoh Masyarakat Sungai Ceper Suban menambahkan, tidak seluruhnya masyarakat Sungai Ceper ini bisa merakit senpi.

“Berdasarkan data desa ada kurang lebih 1.600 kepala keluarga, atau 6.500 ribu jiwa di Desa Sungai Ceper, setidaknya hanya beberapa warga saja yang membuat senpi, tetapi karena mereka warga Sungai Ceper, sehingga nama desa ini yang terkenal,” ujar Suban.

Menurut Suban, warga yang nekat merakit senpi itu, karena terbatasnya lapangan pekerjaan di Sungai Ceper.

“Disini ada yang berkebun dan bertani bagi yang punya lahan, ada juga yang menjadi nelayan, sementara bagi yang tidak punya lahan kebun sebagian kecil warga itulah yang merakit senpi, karena butuh makan. Saya juga yakin jika dibuka jalan darat mereka bisa membuka lahan di wilayah darat desa, sehingga kegiatan merakit senpi bisa ditinggalkan,” tutur Suban.

Kapolres OKI AKBP Ade Harianto mengatakan, kunjungannya ke Desa Sungai Ceper dalam rangka pembinaan masyarakat, memberikan himbauan terutama kepada warga yang masih merakit senpi untuk berhenti merakit senpi, karena hal tersebut dilarang oleh Undang-undang.

“Saya yakin masyarakat Sungai Ceper sudah sadar hukum dan berhenti membuat senpi,” kata AKBP Ade.

Kapolres mengatakan, setelah dirinya melihat langsung ke Desa Sungai Ceper, ternyata hanya beberapa oknum warga saja yang membuat senpira.

“Mayoritas warga di sini, saya lihat, mereka berkebun, bertani dan nelayan, tetapi memang ada sebagian kecil warga yang membuat senpira, itu karena masalah ekonomi, desanya terisolir dan mata pencarian sulit,” beber Kapolres.

Mengenai kebutuhan akses jalan darat, menurut Kapolres, hal itu akan menjadi perhatian pemerintah daerah.

“Untuk pembukaan jalan itu kewenangan pemerintah daerah, kami dari kepolisian berkewajiban untuk menciptakan situasi yang kondusif, dalam waktu dekat atas izin kepala desa dan tokoh masyarakat, kami akan bangun pos pelayanan kepolisian di Desa Sungai Ceper,” kata Kapolres.

Dalam kesempatan itu, warga Sungai Ceper menyerahkan 4 pucuk senpira jenis revolver hasil rakitan oknum warga, berikut alat yang digunakan untuk merakit. (Mat Bodok)

Editor: Yohanes Iswahyudi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved