Anak Alami Kekerasan Seksual Pilih Bungkam dan Simpan Ketakutan Bertahun-tahun, Ini Alasannya

Pekerja kesehatan mental juga perlu mendampingi orangtua untuk memastikan bahwa orangtua berperan efektif mendampingi anak.

Anak Alami Kekerasan Seksual Pilih Bungkam dan Simpan Ketakutan Bertahun-tahun, Ini Alasannya
net
Ilustrasi perkosaan anak 

TRIBUNSUMSEL.COM - Muncul lagi cerita mengenai kekerasan seksual kepada anak dan remaja di sejumlah tempat, hingga terungkapnya jaringan paedofil yang berbisnis pornografi anak melalui Facebook.

Sangat memprihatinkan dan memerlukan sanksi hukum yang tepat untuk penjeraan.

Penelitian dari tahun ke tahun mengungkap fakta yang relatif sama, yakni bahwa kasus kekerasan seksual merupakan fenomena gunung es, yang terungkap hanya sedikit dibandingkan yang sesungguhnya terjadi.

Dari survei nasional di Amerika, Finkelhor dan kawan-kawan (1990) menemukan hanya 42 persem dari orang dewasa yang mengidentifikasi diri pernah mengalami pelecehan seksual di masa kanak, mengaku menceritakan kejadian itu tidak lama setelah kejadian hingga 1 tahun setelahnya.

Sisanya tidak bercerita, atau merahasiakannya dalam waktu lebih lama.

Respons orangtua
Penelitian lebih kini yang dilakukan Hershkowitz dan kawan-kawan (2007) menemukan bahwa lebih dari separuh anak (53 persen) tidak langsung bercerita, dan karena berbagai alasan merahasiakan peristiwa yang dialaminya hingga waktu lama.

Separuh dari anak-anak tersebut merasa takut atau malu oleh respons orangtua dalam menanggapi cerita mereka.

Gonzales dkk (1993) melaporkan bahwa anak yang dikirim untuk menjalani terapi sering ragu untuk bercerita.

Mereka menyinggung sedikit, dan menunggu bagaimana reaksi orang-orang dewasa terhadap cerita itu sebelum berani mengungkap lebih banyak.

Anak khawatir tidak dipercaya, atau justru ditolak, dipersalahkan dan dimarahi untuk cerita yang disampaikannya.

Halaman
1234
Editor: Hartati
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help