Heboh Mengenai Tari Gending Sriwijaya Dimusnahkan, Ini Dia Penjelasannya

Apabila benar ada pernyataan dari Kepala Dinas Kebudayaa Palembang, Sudirman Teguh bahwa gending sriwijaya ada nuansa budha maka ia dinilai tidak puny

Heboh Mengenai Tari Gending Sriwijaya Dimusnahkan, Ini Dia Penjelasannya
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
PALEMBANG EXPO - Penari membawakan tarian gending Sriwijaya pada pembukaan Paembang expo di Pelataran Benteng Kuto Besak, Kamis (4/6/2015). 

Berdasarkan telaah dari kedua pakar epigrafi tersebut, dapat disimpulkan bahwa nama “sriwijaya” baru dikenal setelah tahun 1918.

Kemungkinan nama itu mulai terdengar di telinga wong Palembang setelah tahun 1930-an, yaitu ketika Schnitger, seorang Kontrolir Belanda di Palembang, aktif melakukan survei dan inventarisasi peninggalan budaya zaman baheula di Sumatera, khususnya Palembang.

Ini artinye, nama Sriwijaya tidak melegenda di kalangan masyarakat Sumatera Selatan, khususnya di Palembang.

Hal ini berbeda dengan nama Majapahit yang melegenda di kalangan masyarakat Jawa dan Bali, khususnya masyarakat di Jawa Timur.

Hampir semua lapisan masyarakat asli Jawa Timur dari kota sampai kampung, kalau ditanya tentang Majapahit mereka dengan lancar bertutur tentang Majapahit, bahkan mengaku masih keturunan Majapahit.

Lantas bagaimana “Gending Sriwijaya”?  Banyak wong Palembang percaya bahwa tarian gending tersebut asalnye dari masa Sriwijaya yang berkembang pada abad ke-7-12 Masehi.

“Lha pigimane asalnye dari zaman Sriwijaya, kalo name Sriwijaya aje baru dikenal belakangan di abad ke-20? Lantas kapan itu gending diciptain wong Plembang?”

Ketika budayawan Plembang, Djohan Hanafiah masih hidup, Bambang sempat bertanya soal Gending Sriwijaya.  

Kata Djohan, gending itu diciptakan setelah melalui suatu proses nyang panjang sampai dipentaskan tahun 1944.

Memang benar tarian Gending Sriwijaya diciptakan buat nyambut tetamu yang datang ke Keresidenan Palembang. Waktu itu yang dipilih sebagai penata tari Tina Hadji Gong ame Sukainah A Rozak.

Halaman
1234
Penulis: Wawan Perdana
Editor: Kharisma Tri Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help