Heboh Mengenai Tari Gending Sriwijaya Dimusnahkan, Ini Dia Penjelasannya

Apabila benar ada pernyataan dari Kepala Dinas Kebudayaa Palembang, Sudirman Teguh bahwa gending sriwijaya ada nuansa budha maka ia dinilai tidak puny

Heboh Mengenai Tari Gending Sriwijaya Dimusnahkan, Ini Dia Penjelasannya
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
PALEMBANG EXPO - Penari membawakan tarian gending Sriwijaya pada pembukaan Paembang expo di Pelataran Benteng Kuto Besak, Kamis (4/6/2015). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Berita akan dimusnakannya tari geding sriwijaya mematik reaksi banyak pemerhati budaya dan sejarah. 

Peneliti Pusat Pengembangan Arkeolog Nasional Bambang Budi Utomo juga kaget mendengar adanya kabar tidak sedap itu.

Apabila benar ada pernyataan dari Kepala Dinas Kebudayaa Palembang, Sudirman Teguh bahwa Gending Sriwijaya ada nuansa Budha maka ia dinilai tidak punya visi kebudayaan.

Pria yang sejak lama meneliti perkembangan kerajaan Sriwijaya ini menjelaskan tentang asal muasal tari Gending Sriwijaya.

Unek-unek dan pandangannya itu ditulis di status facebooknya, Senin (20/3/2017).

Kehadiran Sriwijaya di masyarakat Sumatera Selatan baru dikenal namanya sekitar tahun 1930-an.

Itu juga baru di lingkungan orang pintar. Nama Sriwijaya mulai dikenal pada tahun 1913 ketika seorang ahli epigrafi Belanda H Kern berhasil membaca Prasasti Kota Kapur dari Pulau Bangka.

Ahli tersebut menafsirkan nama sriwijaya sebagai nama seorang raja. Diambil dari kata “sri” yang biasa dipakai di depan nama gelar seorang raja.

Kemudian pada tahun 1918, hasil pembacaan Kern tersebut dikoreksi oleh Coedes, seorang ahli epigrafi bangsa Perancis.

Dalam telaahnya yang didasarkan atas berita Tionghoa dan sumber-sumber prasasti, disebutkan bahwa kata “Sriwijaya” yang terdapat dalam Prasasti Kota Kapur adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan dengan pusat pemerintahannya di kota Palembang.

Halaman
1234
Penulis: Wawan Perdana
Editor: Kharisma Tri Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help