Aturan Truk Lebihi 6 Ton Dilarang Melintas Membuat Marak Pungli

Pasalnya, untuk melintas di kota Prabumulih baik di Jalan Lingkar Timur maupun jalan dalam kota Prabumulih, para sopir selalu menemui kendala.

Aturan Truk Lebihi 6 Ton Dilarang Melintas Membuat Marak Pungli
tribunsumsel.com/Edison
Truk-truk angkutan barang parkir di ruas jalan jenderal sudirman Kecamatan Cambai kota Prabumulih. Truk-truk angkutan barang dilarang melintas jalan dalam kota sesuai perwako nomor 56/2015. 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Edison Bastari

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH - Keluhan sejumlah sopir truk angkutan barang yang meminta dispensasi melintasi jalan dalam kota Prabumulih ke pemerintah kota Prabumulih, mendapat respon langsung dari Sekeretris Daerah (Sekda) kota Prabumulih, Drs H Djoharuddin Aini MM.

Djoharudin menegaskan, dalam peraturan walikota Prabumulih nomor 56/2015 tentang larangan truk melintas Jalan Jenderal Sudirman Prabumulih dinyatakan jelas tentang larangan melintas bagi truk-truk angkutan barang masuk jalan dalam kota Prabumulih.

"Namun, untuk truk mengangkut sayur dan sembako ada pengecualian, diperbolehkan masuk jalan dalam kota. Tapi kalau untuk truk lain khususnya bertonase diatas 6 ton serta truk kayu dan truk batubara jelas dilarang," ungkap Sekda kota Prabumulih, Drs Djoharuddin Aini MM ketika diwawancarai wartawan, Kamis (16/3/2017).

Menurut Sekda, jalan-jalan di dalam kota Prabumulih dibangun hanya memiliki kekuatan menampung beban 3 ton sampai 6 ton, sementara truk-truk angkutan barang kebanyakan bermuatan diatas tonase kekuatan jalan.

"Truk-truk karet dan lainnya itu muatannya diatas 6 ton atau 8 ton, apalagi truk batubara dan kayu mencapai 30 ton lebih, jelas mereka harus lewat jalan lingkar timur. Jalan itu sudah menjadi jalan negara dan sudah diserahterimakan," bebernya.

Djoharuddin menuturkan, jika truk-truk bertonase diatas 6 ton dibiarkan melintas di jalan kota dipastikan jalan-jalan akan hancur, sementara hal itu akan merugikan banyak masyarakat pengguna jalan serta pemerintah.

"Kami izinkan lewat kalau mau disiplin bermuatan dibawah 6 ton, kalau mau aturan ditegakkan jika perlu dilakukan pengukuran. Muatan dibawah 6 ton silahkan melintas dan diatas 6 ton jangan lewat," tuturnya.

Lebih lanjut Djoharuddin menjelaskan, pihaknya sangat prihatin masih banyaknya oknum aparat dan tranfortir serta sopir yang terus berupaya merusak jalan kota Prabumulih, bahkan ketika Walikota Prabumulih, Ir H Ridho Yahya MM melakukan penghadangan ada oknum aparat yang membekingi datang.

"Kita sebagai masyarakat harus berbuat, karena banyak aparat dan sopir yang akan merusak kota Prabumulih. Buktinya ketika walikota menyetop truk lalu meminta balik arah, justru ada oknum aparat meski walikota langsung menelpon atasan aparat itu setelahnya. Jadi kami mengajak, kenapa kita sebagai masyarakat tidak berbuat, jalan kita dirusak diam saja," katanya lantang.

Sperti diberitakan sebelumnya, sejumlah sopir angkutan barang yang melintas di jalan kota Prabumulih, akhir-akhir ini terus mengeluh.

Pasalnya, untuk melintas di kota Prabumulih baik di Jalan Lingkar Timur maupun jalan dalam kota Prabumulih, para sopir selalu menemui kendala.

Menurut para sopir angkutan barang, pihaknya kesulitan melintas di Jalan Lingkar Timur Prabumulih karena selain kondisi rusak parah juga rawan kejahatan maupun aksi pungutan liar (pungli).

Sementara untuk melintas melalui jalan dalam kota Prabumulih, para sopir selalu mendapat pengusiran alias dilarang.

"Kami tiap lewat Prabumulih sangat kesulitan, truk angkutan barang dilarang lewat jalan kota sementara jalan lingkar rusak parah," ungkap Doni (44), satu diantara sopir ketika dibincangi wartawan, Rabu (15/3/2017).(eds)

Penulis: Edison
Editor: Hartati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help