Home »

Bisnis

» Mikro

Harga Karet Tembus US$ 1,74 Per Kg

Meskipun kenaikan harga karet di tingkat internasional terjadi, terkadang tidak diikuti dengan kenaikan harga karet rakyat.

Harga Karet Tembus US$ 1,74 Per Kg
TRIBUNSUMSEL.COM/ARIEF BASUKI ROHEKAN
Ketua Gapkindo Sumsel Alex K Eddy

TRIBUNSUMSEL. COM, PALEMBANG -- Setelah sempat terjungkal pada Maret  2016 harga karet US$1,03 per kilogram (kg), kini harga karet perlahan-lahan mulai kembali membaik. Sebelumnya pada November harga berkisar di US$ 1,4 per kg dan pada Desember tahun ini, harga karet dipasaran global menyentuh US$ 1,74 per kg.

"Harga karet saat ini sudah mulai membaik, beberapa hari ini naik terus. Sekarang di posisi US$ 1.74 per kg," kata ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K Eddy, Rabu (7/12/2016).

Menurut Alex, kenaikan harga karet dipicu oleh peningkatan permintaan karet. Selain itu, kondisi ekportir karet dari Thailand yang sedang mengalami bencana banjir, ikut mempengaruhi harga global, yang berpotensi naik menjadi US$ 1,75 per kg di akhir 2016.

"Suplai dan kebutuhan menjadi faktor fluktuasi harga karet bergerak naik. Kemungkinan kekhawatiran pasar karena di Thailand Selatan, yang merupakan daerah sentra karet sedang kebanjiran," ucapnya.

Meskipun harga karet global merangkak naik, Alex bilang suplai harus tetap dijaga. Ia berharap, negara-negara pengeksport karet tidak lantas melepas stok, dan mengguyur pasar karet dunia. Hal ini untuk mencegah, harga karet kembali jatuh.

"Jelas sekarang harga cukup bagus, untuk menggairahkan petani menyadap karetnya. Kemungkinan sampai akhir tahun, harga akan bertahan dikisaran US$ 1.75 per kg," harapnya.

Meskipun kenaikan harga karet di tingkat internasional terjadi, terkadang tidak diikuti dengan kenaikan harga karet rakyat.

"Kami tidak monitor di tingkat petani, tetapi tentu saja harga ada peningkatan.

Tapi kalau kita beli (harga pabrik) dikisaran Rp 21.000 per kg untuk karet kering 100 persen," jelasnya.

Alex melanjutkan,  untuk menyangga karet rakyat, diharapkan adanya campur tangan pemerintah. Seperti misalnya melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memberikan jaminan harga jual karet rakyat yang ideal, dengan mengelolah karet tersebut menjadi konsumsi di dalam negeri.

"Diharapkan pemerintah atau BUMN bisa menciptakan produk berbahan baku karet, selain ban sehingga pasar karet bisa diserap sebanyak-banyaknya untuk konsumsi dalam negeri," tandasnya.

Berdasarkan proyeksi Gapkindo, produksi karet alam pada tahun ini akan hampir sama dengan tahun 2015, sekitar 950.000 ton untuk Sumsel dam sekitar 3 juta ton se Indonesia.

Penulis: Arief Basuki Rohekan
Editor: Yohanes Iswahyudi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help