Tolak Balak, Tradisi Rabu Kasan

Bulan safar, banyak "balak" yang terjadi di rentang waktu tersebut. Oleh sebab itu, Wong Palembang asli atau yang tahu dengan tradisi itu

Tolak Balak, Tradisi Rabu Kasan
TRIBUNSUMSEL.COM/ANDI AGUS TRIYONO
BEKELAH -Tradisi Palembang, Bekelah di pinggir danau Ski Air Jakabaring Palembang, Rabu (30/12/2016). Tradisi ini tiap tahun dilaksanakan pada Rabu akhir.

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Andi Agus Triyono

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG--Bulan safar, banyak "balak" yang terjadi di rentang waktu tersebut. Oleh sebab itu, Wong Palembang asli atau yang tahu dengan tradisi itu, pasti tidak akan mengadakan pesta pernikahan, khitanan atau lainnya.

Untuk keselamatan dan dijauhkan dari "balak", maka wong Palembang mengadakan tradisi Rabu Akhir, Akhir Rabu atau Rabu Kasan. Tujuannya berdoa diberi keselamatan dan dijauhkan dari hal-hal buruk.

Pada tradisi itu, tradisi tolak balak, ada beberapa kegiatan yang dilakukan. Pertama bersembahyang di masjid atau mushola dimulai menjelang Rabu. Kedua, tradisi Bekelah. Tradisi ini berkumpul di pinggir sungai dengan membawa makanan dan alat musik.

"Siang ini, kami melaksanakan Bekelah. Bawa makanan untuk makan bersama disini. Terus bawak alat musik, untuk tarian dan bersenang-senang," kata Anna Kumari, maestro tari Sumsel yang setiap tahun mengadakan tradisi ini.

"Kalau biasanya tradisi itu di pinggir sungai Musi, kami alihkan disini," kata dia.

Katanya, tradisi Rabu Akhir ini sudah jarang dilakukan wong Palembang. Padahal dulu tradisi Rabu Kasan selalu dilakukan setiap tahunnya.

Hal yang membuat kebiasaan baik itu mulai terkikis karena keberadaan sungai Musi yang sudah tak layak untuk dijadikan tempat mandi. Sebab, akhir dari kegiatan Rabu Kasan adalah mandi yang biasanya dilakukan secara bersama-sama.

"Karena Musi sudah kotot tak layak untuk mandi, kami alihkan mandi sendiri-sendiri di rumah," tambah Kumari.

Dia berharap, tradisi semacam ini tetap dilestarikan dan generasi penerus mengrtahui bila Palembang memiliki tradisi tersebut.

Ikuti kami di
Penulis: Andi Agus Triyono
Editor: Muhamad Edward
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help