Ini Bahaya Kecanduan Gadget di Usia Dini

Kecanduan bermain gawai itu berpengaruh bukan hanya pada fisik anak, tapi juga perkembangan emosionalnya.

Ini Bahaya Kecanduan Gadget di Usia Dini
Thinkstockphotos
Ilustrasi 

TRIBUNSUMSEL.COM - Tantangan orangtua di era digital ini bertambah: menjadikan anak mereka mampu mengikuti kemajuan teknologi, sekaligus mencegahnya tidak sampai kecanduan.

Keluhan orangtua akan sulitnya memisahkan anak-anak mereka dari gawai sudah sering kita dengar dalam berbagai perbincangan. Anak-anak di perkotaan memang semakin sering terlihat memakai telepon pintar, tablet, pemutar musik, atau laptop, untuk bermain. Mereka tampak anteng dalam "asuhan" gawai.

Psikolog Astrid Wen menjelaskan, ketika anak, terutama di usia dini, menghabiskan sebagian besar waktunya bermain gawai, sebenarnya mereka sudah mengorbankan aktivitas lainnya.

"Pada anak balita, mereka jadi kehilangan waktu untuk eksplorasi sekitarnya. Waktu untuk berinteraksi secara nyata dengan orang-orang di sekitarnya juga berkurang. Padahal, mereka butuh mengobservasi, mengamati dunia di sekelilingnya," kata Astrid.

Selain itu, waktu beristirahat, mengembangkan kemampuan berpikirnya, dan mengekspresikan dirinya juga dicuri oleh keasyikannya menatap layar gawai.

"Tahu dari mana jika frekuensi bermain anak sudah berlebihan? Kalau anak merasa marah saat aktivitasnya main gawai diinterupsi, menarik diri dari orang lain, dan sembunyi-sembunyi untuk main gawai," ungkap psikolog yang menjadi inisitaor Theraplay Indonesia ini.

Kecanduan bermain gawai itu berpengaruh bukan hanya pada fisik anak, tapi juga perkembangan emosionalnya.

"Regulasi diri anak jadi berantakan. Sejak kecil anak butuh keteraturan hidup agar kelak ia bisa mengatur hidupnya. Anak juga kehilangan rasa empati karena tidak aware dengan dirinya sendiri saat asyik dengan gawai," paparnya.

Dampaknya juga akan terasa di masa depan. Misalnya saja anak tumbuh menjadi orang yang impulsif dan tidak bisa mengontrol diri. Ia juga akan memandang dunia berdasarkan dunia maya, dan menjadi tidak terbiasa bersosialisasi.

"Kegiatan bermain gawai telah mereduksi makna dan tujuan hidup yang nyata. Anak pun bisa tumbuh menjadi orang yang kesepian dan mengalami kecemasan," katanya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Yohanes Iswahyudi
Sumber: Kompas
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help