Urban Culture

Ketika Semua Diam, Pekikkan Kata-Katamu, Hari Puisi Gemakan Karya Para Sastrawan

Bukan hanya puisi karya "Binatang Jalang" saja yang dibacakan, karya-karya sastrawan terkenal Indonesia

Ketika Semua Diam, Pekikkan Kata-Katamu, Hari Puisi Gemakan Karya Para Sastrawan
TRIBUNSUMSEL/ ANDI AGUS T
Edwin Fast, ketua Teater Alam membaca puisi di simpang DPRD Sumsel. 

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

PUISI "AKU" karya Chairil Anwar menggema dalam pertunjukan seni Festival Blender di Taman Budaya Sriwijaya, minggu lalu. Karya sastra angkatan 45 ini masih mampu menyihir pecinta puisi dari berbagai kalangan yang hadir.

Ketika puisi bertema pemberontakan dari segala bentuk penindasan itu dideklamasikan para pecinta puisi yang hadir terdiam, terpana dan aura semangat yang berkobar terpancar. Suasana sajian sastra sungguh kental terasa.

Bukan hanya puisi karya "Binatang Jalang" saja yang dibacakan, karya-karya sastrawan terkenal Indonesia juga menggema dalam festival tersebut. Sebut saja, Sutardji Calzoum Bachri dan "si Burung Merak" WS Rendra, juga menggema di Taman Budaya Sriwijaya Jakabaring.

"Betapa kata-kata menjadi sangat penting ketika semua diam," kata Kepala UPTD Taman Budaya Sriwijaya, Thoton D Permana memberi sambutan pada Festival yang digagas Teater Alam, minggu lalu.

Seniman-sastrawan adalah garda terakhir dalam berbangsa dan bernegara yang berdemokrasi. Ketika semua pilar demokrasi tidak berfungsi sebagaimana mestinya, "kata-kata" atau puisi dari pecinta sastra-puisi harus bersuara. Berani berteriak, pekikkan lantang.

Ruang berkreasi seperti itu -Festival Blender- diharapkan memberikan ruang berekspresi dan beraksi. Menyediakan wadah menjadi pemicu bagi para pecinta sastra untuk berkarya dan menelurkan ide-idenya.

"Mudah-mudahan, ini akan menjadi sesuatu yang berharga ke depannya. Menjadi semangat dan pemicu untuk lahirnya ide-ide baru," kata dia.

Bagi Herman Deru, seni -diantaranya berpuisi- merupakan benteng seseorang dalam memerangi kerusakan baik lingkungan alam dan sebagainya. Ketika minuman keras sudah menjadi hal yang biasa atau dalam menghadapi godaan narkoba berbagai tipe, seni adalah bentengnya.

"Keimanan dan ketaqwaan pasti menjadi modal utama. Tapi benteng kita tanpa mengecualikan itu, adalah seni," katanya sebelum membaca puisi dalam festival tersebut.

Mantan orang nomor satu di kabupaten OKU Timur ini, datang pada Festival Blender yang digagas Teater Alam. Ia didapuk membacakan sebuah puisi dihadapan pegiat puisi yang hadir.

Pandangan dia, seni harus dikedepankan. Tidak bisa seni menjadi alternatif atau pilihan terakhir dalam hidup. Seni, harus menjadi modal membangun diri, bangsa dan bernegara.

Dalam rangkaian Hari Puisi Indonesia pada Festival Blender tersebut, Herman Deru menyatakan bahwa para pekerja seni, pegiat seni adalah tanggung jawab kita bersama. (andiagust/@andijaloer)

Penulis: Andi Agus Triyono
Editor: M. Syah Beni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help