Kisah Haru Halomoan, Tukang Tambal Ban yang Mencari Keadilan

Puas memaki, A Hua mengambil batu dan melempari sepeda motor Halomoan. Tak mau sepeda motornya rusak dilempari, Halomoan berusaha melawan, namun gagal

Kisah Haru Halomoan, Tukang Tambal Ban yang Mencari Keadilan
KOMPAS.com/Mei Leandha
Gara-gara tak mau menghadirkan saksi palsu, kasus penganiayaan yang dialami Halomoan mengambang di Polsek Helvetia Medan 

Namun bulan berganti bulan, tidak ada kabar berita tentang kelanjutan kasus tersebut. Dia kemudian pergi ke Polsek Helvetia menanyakan perkembangan kasusnya kepada seorang juru periksa (juper).

Penyidik meminta Halomoan menyediakan saksi. Suardi alias Didi dan Legin alias Kribo menjadi saksi kejadian yang diajukannya.

Seminggu kemudian, Polsek Helvetia mengeluarkan surat panggilan kepada kedua saksi, Halomoan yang mengantarkan langsung surat tersebut. Namun kedua saksi tidak menghiraukan panggilan tersebut, bahkan saat surat panggilan kedua diberikan kembali, kedua saksi mengejek Halomoan.

"Surat panggilan pertama masih ada, kok, untuk apa lagi surat panggilan kedua ini," kata Halomoan menirukan ucapan kedua saksi, Selasa (5/4/2016).

Dia pun menyampaikan hal itu kepada juru periksa. Lalu, juru periksa menyarankan dirinya mengajukan saksi palsu saja kalau kasusnya mau diproses.

Holomoan sangat terkejut mendengar saran itu, dia tak mau mengikuti saran yang menurutnya salah.

Sejak saat itulah status pengaduannya mengambang sampai hari ini. Sejak dia membuat laporan polisi, toke roti tempat A Hua bekerja pindah rumah ke Gang Rasmi, tepat di depan komplek Tomang Elok Medan.

Sementara rumah tersebut saat ini ditempati Legin alias Kribo, salah satu saksi yang melihat dirinya dianiaya.
Penulis : Kontributor Medan, Mei Leandha

Editor: Kharisma Tri Saputra
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved