Kisah Haru Halomoan, Tukang Tambal Ban yang Mencari Keadilan

Puas memaki, A Hua mengambil batu dan melempari sepeda motor Halomoan. Tak mau sepeda motornya rusak dilempari, Halomoan berusaha melawan, namun gagal

Kisah Haru Halomoan, Tukang Tambal Ban yang Mencari Keadilan
KOMPAS.com/Mei Leandha
Gara-gara tak mau menghadirkan saksi palsu, kasus penganiayaan yang dialami Halomoan mengambang di Polsek Helvetia Medan 

TRIBUNSUMSEL.COM, MEDAN - Harapan mendapatkan keadilan bagi orang-orang kecil memang seperti mimpi yang jarang terjadi.

Halomoan Tampubolon (40), warga Jalan Bakti Luhur Gang Keluarga Nomor 185-C, Kelurahan Dwikora, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, salah satu yang merasakannya.

Laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai penambal ban ini dianiaya A Hua, seorang pedagang roti pada 4 Agustus 2015 lalu.

Halomoan mengatakan, kejadian itu dipicu masalah sepele. Waktu itu, A Hua memarkirkan gerobak rotinya di halaman rumah kontrakannya yang sempit. Dia lalu menegur dan meminta A Hua untuk memindahkan gerobak rotinya ke halaman rumah tokonya yang berada di depan rumah Halomoan.

Rupanya A Hua tak senang dengan terguran tersebut. Dia langsung membentak dan memaki Holomoan dengan kata-kata kotor.

Puas memaki, A Hua mengambil batu dan melempari sepeda motor Halomoan. Tak mau sepeda motornya rusak dilempari, Halomoan berusaha melawan, namun gagal gara-gara dihalangi Legino alias Kribo yang memegangi tangannya.

Melihat Halomoan tak bisa bergerak, A Hua spontan memukulinya sampai babak belur dan meninggalkannya begitu saja.

Lapor polisi

Atas saran adiknya, Halomoan melaporkan masalah ini ke Polsek Helvetia Medan. Seorang penyidik menyuruhnya melakukan visum di RS Pirngadi Medan.

Setelah ada bukti visum, pengaduannya diproses sesuai STTLP/704/VIII/2015/SU/POLRESTA MEDAN/SEK MDN HELVETIA - 5 Agustus 2015, ditandatangani Kepala SPKT A Briptu Azhar Efendi.

Halaman
12
Editor: Kharisma Tri Saputra
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help