Pasca Lebara Harga Sayuran Melonjak Tajam

Panen kami sedikit karena kami sulit menanam lantaran musim kemarau. Wajar saja jika harga sayuran mahal karena yang panen tidak banya

Pasca Lebara  Harga Sayuran Melonjak Tajam
Shutterstock
Sayuran hijau 

TRIBUNSUMSEL.COM, PAGARALAM - Pasca lebaran sayuran paling dicari masyarakat. Kondisi ini berdampak pada harga sayuran melonjak tajam. Ditambah, hasil panen yang memang sedikit lantaran musim kemarau menyebabkan petani kesulitan menanam.

Informasi yang dihimpun Sripo, pasca lebaran masyarakat bosan mengkonsumsi daging. Untuk itu sayuran dicari untuk dikonsumsi. Namun, banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi sayuran berdampak pada tingginya harga sayur.

Bagaimana tidak, untuk satu ikat Daun Lumai yang selama ini hanya Rp1.000-Rp1.500 perikat tembus Rp5.000 perikatnya. Selada Rp3.000 perikat. Sawi takis Rp6.000 perkilogramnya.

Bahkan harga sayur yang selama ini tidak pernah tinggi yaitu worter saat ini harganya tembus Rp30.000 perkilo. Kondisi tersebut juga sama dengan harga daun bawang yang selama ini hanya Rp8000 perkilo saat ini tembus Rp30.000 ribu perkilo.

Heni (28) salah satu ibu rumah tangga mengatakan, saat ini harga sayuran sangat mahal. Pasalnya usai lebaran daging, ayam dan ikan tidak laku karena bosan. Sementara, sayuran harganya melonjak tajam.

"Harga sayuran cukup tinggi. Untuk satu ikat daun lumai dijual Rp5.000. Bahkan sejumlah jenis sayur yang selama ini murah tiba-tiba harganya menjadi mahal seperti wortel. Meskipun mahal tetap dibeli karena sayuran jenis ini sangat diminati keluarga kami," ujarnya.

Menurutnya sayuran yang dijual juga sepi. Kondisi inilah yang menyebabkan harga sayuran melonjak tajam. Jenis sayuran yang dijual juga tidak begitu beragam sehingga semuaa jenis sayuran habis terjual.

Mirok (41) petani sayur Dusun Kerinjing menuturkan, saat ini pihaknya tengah panen sawi manis atau sawi takis. Panen kali ini tidak terlalu banyak karena tanaman sulit tumbuh. Pasalnya, pada musim kemarau pihaknya kesulitan melakukan penanaman.

"Panen kami sedikit karena kami sulit menanam lantaran musim kemarau. Wajar saja jika harga sayuran mahal karena yang panen tidak banyak," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Pagaralam Jumaldi Jani mengatakan, Kota Pagaralam adalah daerah penghasil sayuran terbesar di Sumsel. Namun, lantaran kemarau sayuran sedikit. Kondisi inilah yang membuat harga sayuran tinggi.

"Wajar saja jika sayuran mahal karena panen sedikit. Kita harapkan sayuran yang ditanam tetap stabil sehingga harga juga stabil dan petani tidak dirugikan," jelasnya.

Tags
pagaralam
Editor: Tribun Sumsel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help