Waspadai Pelaku Kejahatan dengan Hipnotis Saat Mudik

Diantaranya dengan menepuk pundak kemudian pelaku memerintah korban untuk tidur atau menatap mata pelaku.

Waspadai Pelaku Kejahatan dengan Hipnotis Saat Mudik
TRIBUNSUMSEL.COM/RETNO WIRAWIJAYA
Rohaina (61), warga Perumahan Sriwijaya, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), harus merelakan dua suku perhiasan emas milik cucunya. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Polda Metro Jaya mencatat, sampai H-3 Lebaran, kasus pencurian saat mudik dengan pemberatan ada 23 kasus, pencurian dengan kekerasan (curas) sebanyak satu kasus, dan pencurian kendaraan bermotor sebanyak 15 orang.

Salah satu modus kejahatan jalanan yang terjadi saat mudik lebaran, terutama pada pusat keramaian seperti Terminal Bus, Stasiun, Bandar Udara dan Pelabuhan, adalah hipnotis. Hipnotis sendiri merupakan bagian dari modus kejahatan untuk melakukan pencurian.

"Hipnotis itu kan salah satu cara. Jadi salah satu modus aja," kata Kriminolog Universitas Indonesia Arthur Josias Simon saat dihubungi, Jakarta, Rabu (15/7/2015).

Terdapat beberapa tahap hipnotis, yakni mulai dari proses pendekatan yang dihipnotis atau biasa disebut dengan pre-introduction. Selanjutnya, yakni proses induksi hipnosis, diantaranya dengan menepuk pundak kemudian pelaku memerintah korban untuk tidur atau menatap mata pelaku.

Proses selanjutnya berupa deepening, yakni semcaman pendalaman hipnotis untuk lebih mendalam, bisa berupa relaksasi sehingga tidak sadar telah dihipnotis. Ketika sudah tidak sadar, maka pelaku memberikan sugesti kepada korban. Saat sugesti, pelaku akan meminta seluruh barang korban untuk diberikan.

Proses terakhir berupa terminasi, yakni mengakhiri hipnotis. Korban diminta untuk melupakan semua kejadian saat itu. Lalu korban kembali tersadar dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Simon menyebutkan ada dua modus hipnotis yang biasa dilakukan, yaitu dengan menatap mata dan kedua, menepuk seseorang.

Para pelaku hipnotis yang memakai cara menatap mata biasanya menyasar korban yang memiliki pandangan kosong. Para korban tidak sadar saat dirinya menatap mata pelaku hipnotis. Situasi dan kondisi yang cukup ramai juga dimanfaatkan pelaku dalam melancarkan aksinya sehingga secara tidak sadar seolah-seolah hanya perbincangan biasa saat melakukan hipnotis.

Sementara itu, pelaku yang menggunakan modus menepuk biasanya melakukannya dengan tiba-tiba. Para pelaku dengan cepat menepuk salah satu bagian tubuh dari korbannya. Bagian tubuh yang kerap kali ditepuk yakni pundak dan badan. Setelah ditepuk, korban biasanya tidak akan sadar bahwa dirinya telah dihipnotis.

Namun, Simon mengingatkan, tidak semua orang dengan ciri-ciri tersebut bermaksud melakukan kejahatan hipnotis. Untuk itu, selain harus waspada, masyarakat juga diminta untuk tetap bersosialisasi dengan masyarakat lainnya.

"Ada beberapa perilaku yang memang harus diwaspadai, mimsalnya beberapa kali terlihat menyentuh atau menatapi kita, itu yang mesti kita waspadai. Tapi kalau hanya sepintas ya itu sih biasa ya," ungkap Simon.

Tags
Hipnotis
Editor: Yohanes Iswahyudi
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved