TribunSumsel/

URBAN CULTURE

Menyorot Aksara Sumsel yang Hilang

Pusaran dengan sebuah titik pusat di tengah-tengahnya, merupakan gambaran pusat huruf Sumsel itu menghilang.

Menyorot Aksara Sumsel yang Hilang
TRIBUN SUMSEL/ANDI AGUS TRIONO
Perupa Palembang, Martha dan lukisan Ke Ge Nge-nya dengan judul Aksara yang Hilang 

KE GE NGE. Tulisan itu berada di tengah-tengah lingkaran sebuah lukisan berwarna merah. Dalam kanvas tersebut bertabur huruf Ulu-an Sumsel dengan tekstur lukisan sedemikian rupa.

Pusaran dengan sebuah titik pusat di tengah-tengahnya, merupakan gambaran pusat huruf Sumsel itu menghilang. Namun diyakini, dari titik pusat lingkaran itu pula huruf Sumsel akan timbul kembali dan kemudian menyebar, dikenal dan digunakan masyarakat.

"Itulah yang ingin saya sampaikan. Bahwa sekarang huruf Ulu-an ini sudah jarang dikenal masyarakat. Menghilang. Tapi nanti suatu akan timbul kembali dan dikenal masyarakat," kata pelukisnya, Martha berbincang-bincang dengan Tribun Sumsel, di Balai Seni Seroja, Palembang.

Ia memberi judul lukisan itu "Aksara yang Hilang" atau dalam bahasa daerahnya "Surat Nde La Kelam". Judul itu menggambarkan huruf Ulu-an saat ini tengah menghilang. Kemudian suatu saat nanti akan timbul kembali dan dikenal masyarakat. Dalam lukisan itu pula, menggambarkan konsep spiral, bisa timbul dan menghilang.

"Pilihan kata "kelam" dalam bahasa daerahnya, itu dia hilang tapi bisa timbul kembali. Okelah saat ini huruf Ulu-an jarang yang tahu. Tapi suatu saat nanti huruf itu akan muncul kembali," katanya.

Ia prihatin dengan huruf Sumsel tersebut. Dulu, huruf itu digunakan di Sumsel, bahkan tahun 1980 an, kata dia, pernah diajarkan dan kemudian terhenti. Warga Sumsel pun sudah jarang yang mengetahui ataupun bisa membacanya.

Hal ini berbeda dengan huruf Jawa, Hono Coroko. Dimana, huruf tersebut masih dilestarikan. Alangkah bagusnya apabila huruf Ulu-an, huruf Sumsel itu nantinya bisa dikenal luas oleh masyarakat.

Dari keprihatinan itulah ia menuangkan dalam lukisan tersebut. Dirinya berharap huruf itu akan terus menjadi bagian Sumsel. 

Sumsel Dalam Lukisan

SUMATERA Selatan, sejarah permulaan hingga saat ini menarik untuk dikemas dalam sebuah lukisan. Berbagai momen dan sejarah tak luput dari perhatian para seniman, terutama pelukis.

Dalam Balai Seni Seroja Palembang, terpajang beberapa lukisan Sumsel dalam sebuah lukisan. Pada zaman kerajaan Sriwijaya, seorang tengah memahat lukisan pada batu. Kemudian pada perang lima hari lima malam, juga dituangkan dalam lukisan.

Tak ketinggalan, kerajinan membuat dan menenun kain songketpun, tergambar dalam kanvas. Bahkan, kata Martha, lukisan itu pernah masuk pameran nasional di Jakarta.

"Seniman, khususnya pelukis Palembang, sudah pernah melukis Sumsel tentunya dengan referensi mereka, dengan ciri khas mereka," ujar Martha, perupa Palembang ini.

Lukisan itu menggambarkan dari awal hingga saat ini. Terbaru, ketika klub Sriwijaya FC merebut gelar bersama pelatih Rahmad Darmawan, tak ingin ketinggalan pelukis juga menuangkannya dalam lukisan.

"Kenapa kita melukis itu, karena bangsa yang besar tidak lupa dengan sejarahnya. Dengan lukisan ini, kita ingin menuangkan dan menjaga Sumsel baik itu sejarah maupun kebudayaannya," katanya. 

Tags
Palembang
Penulis: Andi Agus Triyono
Editor: Yohanes Iswahyudi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help