• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribun Sumsel
Home » Ekbis

Rp 6 Juta Per Bulan dari Bisnis Bunga Kuburan

Senin, 18 Februari 2013 23:44 WIB
Rp 6 Juta Per Bulan dari Bisnis Bunga Kuburan - bunga_kamboja_(2).JPG
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
Tarsok saat memetik bunga kamboja di areal pemakaman umum.
Rp 6 Juta Per Bulan dari Bisnis Bunga Kuburan - bunga_kamboja_(3).JPG
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Tingginya harga jual bunga kamboja per kilogramnya membuat sejumlah masyarakat di wilayah OKU Timur mulai berburu bunga yang identik menjadi tanaman pemakaman tersebut.

Bunga kamboja kering yang dibeli penampung dengan harga Rp 60 ribu per kilogram tentu saja membuat masyarakat tergiur. Mereka berlomba-lomba melakukan penanaman bunga kamboja di halaman rumah. Namun sebagian masyarakat lainnya rela melakukan perburuan bunga kamboja di sejumlah areal pekuburan.

Seperti yang dilakukan Tarsok (60) warga asal Desa Negeriratu Baru Kecamatan Bungamayang, Kabupaten OKU Timur. Setiap harinya ia berburu bunga kamboja untuk dijual kepada penampung.

Tarsok mengaku mencari bunga kamboja setiap harinya di sejumlah areal pemakaman warga yang ada di sekitar wilayahnya. Untuk membudidayakan bunga tersebut menurutnya cukup sulit namun Sejumlah warga saat ini sudah mulai berusaha untuk menanam di pekarangan rumah dan kebun mereka.

“Sebagian besar warga sudah mengetahui kalau harga bunga kamboja ini mahal. Jadi sudah banyak yang berburu bunga tersebut. Bahkan di areal pemakaman sekarang bunga kamboja sudah mulai sulit dicari,” jelasnya Selasa (18/2/2013).

Tarsok mengaku bunga kamboja yang diperolehnya dijual dengan harga Rp 60 ribu perkilogram kepada penampung yang sudah menjadi langganannya. Dalam satu bulan kata dia, dirinya mampu mendapatkan bunga kamboja sekitar 10 kilogram bahkan lebih bunga kamboja yang sudah dikeringkan.

“Sekitar Rp 6 juta setiap bulannya. Saat ini warga mulai melakukan penanaman bunga kamboja di sekitar pekarangan rumah dan perkebunan mereka. Karena menjanjikan jadi warga mulai berlomba-lomba untuk melakukan penanaman bunga tersebut. Bahkan sebagian warga mulai beralih untuk menanam bunga tersebut,” jelasnya.

Dikatakan Tarsok, penampung biasanya akan datang sendiri ke rumahnya untuk mengambil bunga kamboja yang sudah kering dan siap untuk dijual. Biasanya, dia akan menghubungi pembeli untuk mengambil bunga kamboja yang sudah kering.

“Jika bunga kamboja sudah siap jual saya tinggal menghubungi pembeli dan mereka siap datang setiap saat,” katanya.

Ditanya cara pengolahannya, Tarsok menjelaskan, sebelum dijual bunga kamboja yang baru dipetik terlebih dahulu dijemur selama tiga hari dibawah terik matahari.

Harga yang cukup menggiurkan membuat dirinya bertekad untuk memperbanyak tanaman bunga tersebut di sekitar pemakaman umum itu. Bermodalkan bunga kamboja induk yang lebih besar, kemudian mematahkan sejumlah dahan dan menanamnya di sekitar kuburan lainnya.

Tidak ada aturan dan jarak tanam yang diikuti. Semuanya dilakukan tarsok berdasarkan insting petaninya saja. Kepercayaan sebagai penjaga makam oleh masyarakat tidak disia-siakannya untuk menambah penghasilan. Hasil kebun yang dimilikinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan enam orang anaknya.

“Saya hanya petani kecil. Kalau hanya mengandalkan hasil kebun dan ladang tidak akan cukup. Lagi pula tanaman kamboja ini sangat menjanjikan. Jadi sebagai penjaga makam, saya juga memanfaatkan tanaman kamboja ini untuk memperbanyaknya,” ujarnya.

Menurut Tarsok, tidak sulit untuk membudidayakan bunga kuburan tersebut. Petani hanya cukup menancapkan batangnya kemudian menunggu hingga beberapa minggu sampai batang yang baru ditancapkan hidup dan siap untuk dipetik. Menurutnya, satu batang yang baru ditanam bisa dipetik bunganya satu hingga dua minggu kemudian dengan hasil yang cukup lumayan.

“Istri saya bekerja sebagai petani dan saya sebagai penjaga makam. Sebelumnya saya tidak mengetahui kalau kembang kamboja ini sangat berharga. Namun setelah ada kawan yang meminta saya mencari, ternyata harganya cukup tinggi. Kemudian saya mulai memperbanyak tanamannya dengan menanam di sekitar kuburan ini,” katanya.

Saat ini kata Tarsok, dirinya sudah menanam bunga kamboja sebanyak 500 batang yang sudah mulai besar. Setiap hari dirinya terus memperbanyak tanaman bunga kamboja tersebut di sekitar areal pemakaman itu.

“Mau ditanam di kebun atau ladang saya tidak punya. Jadi saya budidayakan saja di areal pemakaman ini. Kalau di perkebunan sudah ada yang menanam. Tapi sekarang masih kecil-kecil,” katanya.
Bunga kamboja kering lanjutnya, akan dijual kepada pembeli dengan harga Rp 60 ribu perkilogramnya yang akan dikirim ke wilayah jawa tengah. “Disana tempat pabrik pengolahannya,” ujarnya.

Sementara Agus (25) Warga Kecamatan Bunga Mayang yang merupakan pembeli bunga kamboja kering ketika dikonfirmasi mengatakan, Prospek bunga kamboja saat ini cukup menjanjikan.

“Mulai dari cara tanam, sistim pemanenan serta pemasarannya tidak terlalu sulit. Ditambah lagi dengan tingginya nilai jual di pasaran yang tentunya akan membantu petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujarnya.

Untuk wilayah OKU Timur kata dia, pembudidaya bunga kamboja masih sangat jarang. Bahkan bisa dikatakan tidak ada. Padahal warga di Pulau Jawa sudah banyak membudidayakan bunga tersebut.

“Bunga kamboja itu katanya bisa dijadikan sebagai minyak wangi melalui proses penyulingan terelebih dahulu. Sedangkan sisa proses penyulingan atau ampasnya bisa dimanfaatkan kembali menjadi campuran dupa. Semuanya berguna. Mungkin itulah yang menjadikan bunga tersebut cukup mahal. (Evan Hendra)
Editor: Yohanes Iswahyudi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas