A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Bank SumselBabel Digoyang Kredit Bermasalah - Tribun Sumsel
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribun Sumsel
Home » Ekbis

Bank SumselBabel Digoyang Kredit Bermasalah

Senin, 14 Januari 2013 09:26 WIB

- Senilai Rp 811 Miliar
- BI Batasi Penyaluran Kredit

PALEMBANG, TRIBUN - Bank SumselBabel (BSB) digoyang laporan kredit bermasalah senilai Rp 811 miliar. Angka Non Performing Loan (NPL) periode Januari-Oktober 2012 kisaran 7,9 persen, lebih tinggi dari batas toleransi 5 persen. Situasi itu telah mendorong Bank Indonesia melakukan pembinaan dengan membatasi penyaluran kredit BSB terutama pada pasar properti dan perkebunan.

Isu kredit bermasalah di BSB berhembus sejak November 2012. Tribun Sumsel melakukan penelusuran dan mendapati Laporan Keuangan Publikasi Bank di website resmi Bank Indonesia.
Berdasarkan data itu, sebetulnya BSB mengalami peningkatan penyaluran kredit. Periode Januari-Oktober 2012, BSB berhasil menyalurkan kredit hingga Rp 10,185 triliun, jauh lebih tinggi dibanding penyaluran kredit pada periode sama di tahun 2011 senilai Rp 8,301 triliun.

Namun, jika dilihat dari proses penyaluran, dari keseluruhan kredit yang disalurkan hanya Rp 9,132 triliun yang terbilang lancar. Selebihnya Rp 242,125 miliar berada dalam kategori Pengawasan Khusus (DPK), Rp 525,081 miliar Kurang Lancar (KL), Rp 154,856 miliar Diragukan (D), dan Kredit Macet (M) mencapai hingga Rp 131,070 miliar. Kriteria kolektibitas kredit bermasalah mencakup KL, D, dan M total kisaran Rp 811,007 miliar dengan angka NPL 7,9 persen.

Asisten Direktur/Kepala Tim Pengawasan Bank Indonesia (BI) Palembang, Achmad Darimy, mengatakan, angka Non Performing Loan (NPL) bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Sumsel sampai November 2012 mencapai 3,3 persen. Angka ini merupakan yang tertinggi selama satu dasawarsa terakhir.

NPL yang dirilis BI Palembang ini memang masih di bawah batas toleransi maksimal yakni 5 persen. Meski demikian, BI Palembang cukup khawatir melihat tren kenaikan yang cukup mencolok. Sebab, pada periode yang sama pada tahun 2011 NPL bank umum di Sumsel hanya 2,16 persen.

"Sebenarnya tidak semua bank mengalami kenaikan NPL. Ada bank yang bagus. Namun dari angka tersebut berarti ada beberapa bank yang mengalami kenaikan cukup signifikan," ujar Achmad Darimy di ruang kerjanya, Jumat (11/1).

Darimy membenarkan ada bank di Sumsel yang NPL-nya di atas 5 persen. Meski tak menyebutkan nama bank itu, Darimy memberi sinyal bahwa bank itu berkantor pusat di Palembang serta memiliki kekuatan modal yang besar dan kuat.

"Sudah tahu pasti bank yang punya kekuatan modal di sini siapa, ini bisa dipetakan, siapa yang memberikan kredit terbesar, kalau bank lain kan di sini hanya cabang," ujarnya.

Dikonfirmasi soal kredit bermasalah di atas ketentuan standar BI sebesar 5 persen itu, Direktur Operasional BSB, Rendra, mengatakan, saat ini BSB masih melakukan audit ulang untuk mengkoreksi hasil audit yang telah dikeluarkan BI per Oktober tahun lalu.
“Audit yang dikeluarkan BI itu hanya adjustment saja. Kami tahu dalam pemeriksaan penyaluran kredit BI tidak hanya melihat dari berapa jumlah nominal yang kami salurkan kepada debitur, tapi juga proses pemberian kredit tersebut,” kata Rendra di ruang kerjanya, Kamis (10/1).

Oleh sebab itu, kata dia, saat ini BSB sedang melengkapi syarat-syarat yang belum terpenuhi tersebut. "Apabila syarat tersebut sudah lengkap baru akan kami laporkan kembali ke BI," jelas Rendra.

Rendra memaparkan pencapaian penyaluran kredit BSB sebesar Rp 9,8 triliun, lebih tinggi dari Rencana Bisnis Perbankan yang ditetapkan sebesar Rp 9,4 triliun.

Ditanya perihal penyebab tingginya kredit bermasalah di BSB, Rendra mengaku tidak begitu mengerti akan hal tersebut. "Tapi jika mau melihat data lengkapnya, tanya saja ke bagian kredit," katanya.
Ketika Tribun Sumsel ingin mengkonfirmasi data lengkap penyaluran kredit ke Bagian Kredit, saat itu Kepala Bagian Kredit BSB, Nelson Wijaya, tidak ada di tempat. Humas BSB, Abbas Akbar, mengatakan, Nelson sedang berada di luar kota.

Data yang dihimpun Tribun Sumsel, penyaluran kredit BSB berada pada posisi terkendali pada tahun 2011. Kredit yang diberikan Rp 8,030 triliun dengan laporan Kredit Lancar Rp 8,032 trilun, Dalam Pengawasan Khusus Rp 134,009 miliar, Kurang Lancar 8,361 miliar, Diragukan Rp 1,017 miliar, dan Rp 125,434 miliar Kredit Macet.

Euforia Bank

Asisten Direktur/Kepala Tim Pengawasan Bank Indonesia (BI) Palembang, Achmad Darimy, menjelaskan, ueforia perbankan untuk mengejar penyaluran kredit yang tinggi menjadi faktor utama pemicu tingginya NPL. Terutama untuk pembiayaan di sektor perkebunan dan perumahan.

Semangat perbankan pada tahun lalu merupakan respon tingginya animo investasi di Sumsel. Tak mengapa jika investasi itu menggunakan modal pribadi. Berbeda jika menggunakan modal perbankan. Pelaku usaha yang kesulitan mengembalikan pinjaman membuat NPL perbankan mengalami kenaikkan.

Menurut Achmad Darimy, jumlah kredit yang disalurkan oleh setiap perbankan merupakan data umum yang berhak diketahui publik. Pihak Perbankan seharusnya bisa memberikan data ini ketika ingin diketahui oleh publik, termasuk Bank Daerah.

"NPL bukan data rahasia, tidak seperti data simpanan nasabah yang benar-benar rahasia dan diatur undang-undang tidak boleh diketahui umum. Penyaluran kredit oleh perbankan tidak bersifat rahasia, itu harusnya ada dipublikasi website mereka atau publikasi melalui media massa," tegasnya.

Menindaklanjuti temuan tingginya angka NPL bank lebih dari lima persen, BI telah melakukan pembinaan langsung. Pembinaan dilakukan tidak menunggu angka NPL menjadi lima persen.

Tren kenaikan NPL yang tidak biasa pada suatu bank sudah menjadi indikator bagi BI untuk melakukan pembinaan, misalnya terjadi tren peningkatan pertumbuhan NPL dari satu persen merangkak naik secara terus menerus.

"Kami terus memantau dan melakukan pembinaan sejak tahun lalu. Kami sudah minta konfirmasi dan panggilan tertulis untuk menanyakan alasan kenaikkan NPL tersebut. Naiknya NPL pada bank itu sudah sejah tahun lalu," ujarnya.

Pembinaan yang dimaksud ialah memberikan pembatasan kegiatan usaha pada bank itu, seperti penyaluran kredit. Penyaluran kredit yang dibatasi saat ini lebih di titikberatkan pada pasar properti dan perkebunan. Dua pasar itu diminati banyak bank sehingga memicu persaingan ketat dan pertumbuhan tinggi.

Selain itu, BI juga membatasi nominal penyaluran kredit bank itu. Namun Darimy tak mau menyebutkan berapa persen pembatasan nominal yang diterapkan. Ia mengakui, butuh kerja keras untuk menurunkan angka NPL yang tinggi itu. Tidak mudah dan membutuhkan proses lama.
Darimy mengingatkan, permasalahan kredit merupakan sesuatu yang wajar di dunia perbankan. Sebab, selalu ada resiko dalam setiap penyaluran kredit.

Ada tiga hal yang bisa memicu kredit itu bermasalah. Bisa datang dari debitur akibat karakter peminjam yang tak baik. Bersumber dari bank akibat tak ada prinsip kehati-hatian. Berikutnya adalah faktor situasi ekonomi regional dan internasional.

"Artinya kita tidak bisa menilai permasalahan kredit itu dari satu hal. Penyebabnya macam-macam. Bisa dinilai dari sana," ujarnya.
Dihubungi secara terpisah, Manager Pengawas Bank Unit Pengawasan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kantor Bank Indonesia (KBI) Palembang, Husni Naparin mengatakan, kredit macet masuk ke dalam indikator penilaian bank itu dalam keadaan sehat, kurang sehat, atau cukup sehat.

Selain kredit macet, penilaian kesehatan bank juga dilihat dari rasio resiko dan rasio keuangan. Bank Sumsel Babel masih mampu menghasilkan laba Rp258 miliar (data Oktober 2012). "NPL itu hanya sebagian kecil indikator penilaian kesehatan bank. Tidak terlalu berpengaruh, apalagi Bank Sumsel Babel masih mendapatkan laba cukup besar," ucap Husni.
Editor: Prawira Maulana
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
47433 articles 72 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas