Jumat, 19 Desember 2014
Tribun Sumsel

Oli Campur Sagu Beredar di Sumsel

Rabu, 12 Desember 2012 12:49 WIB

Oli Campur Sagu Beredar di Sumsel
NET
Ilustrasi.
- Oli Palsu Pakai Kemasan Asli
- Dijual Eceran dan Paket Drum
PALEMBANG, TRIBUN - Pemilik kendaraan sebaiknya bersikap lebih waspada karena oli palsu hasil daur ulang oli bekas dicampur sagu beredar luas di Sumsel. Oli palsu ini menggunakan kemasan botol hampir semua produk oli terkemuka. Pelaku memasarkan oli palsu ini ke bengkel-bengkel dengan cara menyisipkannya di antara oli asli.
Sekilas, oli palsu produk daur ulang ini tidak berbeda dengan oli asli. Botol, stiker, dan segel yang digunakan sama persis. Padahal, kualitas kekentalan oli ini berbeda dibandingkan produk merek asli.
Penelusuran dan informasi yang dihimpun Tribun Sumsel, bisnis pemalsuan oli terorganisir dengan baik dengan jaringan tersebar di berbagai daerah di Sumsel. Para pelaku membeli oli bekas dari bengkel-bengkel dengan mengendarai mobil pikap.
Satu drum oli bekas dibeli dihargai Rp300 ribu-Rp500 ribu. Mereka juga membeli oli bekas Rp 30 ribu untuk satu jeriken ukuran 20 liter. Di bengkel-bengkel itu pelaku membeli botol bekas kemasan oli asli seharga Rp200-Rp300 per botol.
Beberapa pemilik bengkel yang dijumpai mengaku tak mengetahui oli bekas itu digunakan untuk apa. Mereka tak mau pusing memikirkannya, malah senang ada yang mau membeli limbah usaha yang tidak tahu harus dibuang ke mana.
"Daripada dibuang, lebih baik dijual. Sehari bisa tiga orang yang datang untuk menanyakan oli bekas. Saya menyiapkan dua drum, apabila satu penuh langsung dijual ke penadah," kata Koko, pemilik bengkel di kawasan Perumnas.
Koko hanya mendapat penjelasan, oli bekas itu digunakan untuk pembakaran. Harga jual oli bekas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada 2010 hanya dihargai Rp 175 ribu per drum, lalu di 2011 naik jadi Rp200 ribu, dan di tahun ini harganya Rp300 ribu.
Pelaku pemalsuan juga menampung oli bekas dari perusahaan tambang dan perkebunan. Sumber Tribun pernah menjadi perantara yang bertugas mengenalkan pelaku pemalsuan dengan oknum kontraktor tambang yang bersedia menyediakan oli bekas mesin dan kendaraan alat berat.
Untuk mengelabui petugas, pelaku mengangkut oli bekas itu menggunakan mobil tangki crude palm oil (CPO).
Sampai di Palembang, oli bekas itu dicampur sagu lalu diendapkan selama seminggu di tempat penampungan. Tujuannya untuk memisahkan kotoran dan oli. Terdapat dua tempat pengolahan oli bekas jadi oli palsu di Palembang, yakni di kawasan Seberang Ulu dan Sukarami. Satu tempat lagi di Lubuklinggau.
Selanjutnya, oli hasil pemisahan yang sudah bersih dimasukkan ke tempat mixer berukuran besar. Setelah diendapkan beberapa hari, oli dimasukkan ke bak penampungan dan diberi zat kimia.
Modus pendistribusian oli palsu dengan dua cara. Pertama bekerjasama dengan pedagang besar agar oli daur ulang itu bisa disisipkan dengan produk asli. Cara lain dengan menjual langsung ke bengkel-bengkel.
Harga Murah
Sumber tribun yang memiliki bengkel di Jl Pangeran Ayin mengaku pernah ditawari oli daur ulang ini. Pelaku datang menggunakan mobil box pada siang hari.
"Orang itu menjual oli dengan harga yang sangat murah. Selisih dibandingkan merek asli sekitar Rp5.000 per botol. Yamalube misalnya, dari harga Rp27 ribu dijual Rp23 ribu per botol. Alasan harga jual murah karena mereka membeli oli di agen dalam jumlah banyak," jelas pemilik bengkel motor ini, Sabtu (8/12).
Namun sumber Tribun ini mengaku menolak pembelian oli daur ulang itu meski harga yang ditawarkan murah. Harga yang murah membuatnya curiga. Dugaan itu menguat ketika memperhatikan perbedaan kecerahan warna stiker pada masing-masing botol. Ada yang terang, pudar, dan sedang-sedang saja.
"Sekarang ini apa yang tidak bisa dipalsukan. Sebenarnya perusahaan oli merek terkenal sudah menginstrusikan agar botol dan stiker dirusak, tetapi pelaku bisa saja membuat ulang. Jika diperhatikan secara teliti, pasti ada perbedaan. Misalnya dari warna stiker," tuturnya.
Masyarakat lanjutnya kadang tertipu oleh pemilik bengkel yang menjual oli daur ulang. Mereka hanya memajang produk asli, sedangkan oli daur ulang di simpan di tempat lain. Saat ada orang yang mau ganti oli, pemilik bengkel malah mengambil produk yang disimpan di tempat berbeda tadi.
"Saya tidak tahu mereka itu dari mana. Selain di Palembang, saya pernah melihat oli daur ulang ini di beberapa bengkel di Lahat, Lubuklinggau, dan Sekayu," ucap pria yang memulai usaha dari menjadi mekanik ini.
Sumber Tribun lainnya malah pernah menemukan segel oli Yamalube yang berbeda dengan aslinya. Jika produk asli ada tulisan Yamaha, segel produk yang diduga palsu itu tanpa tulisan. Polos, namun warna segel itu tetap sama yakni silver.
Beberapa konsumennya malah pernah mengeluhkan suara motornya kasar. Padahal pemilik motor itu baru beberapa hari mengganti oli mesinnya.
"Saya beli oli di Jl Jend Sudirman. Paling tiga sampai lima botol setiap beli, bukan dus-an. Saya tidak tahu bagaimana membedakan merek asli dan tiruan itu seperti apa," ucap pemilik bengkel di Perumnas ini.
Banyaknya oli bekas yang dikemas ulang diakui oleh seorang pelaku kepada TL, mekanik yang pernah bekerja di bengkel daerah Sekayu.
"Orang yang biasa membeli oli bekas di bengkel tempat saya bekerja mengakui, oli itu mau disuling ulang. Selain oli bekas, orang itu juga membeli botol oli yang harus terkumpul di kantong besar. Alasannya biar mudah mengambilnya," jelas TL.
Paket Drum
Sebuah bengkel jasa service sepeda motor di kawasan Sekip, Palembang, pernah didatangi seseorang yang menawarkan oli daur ulang untuk dijual kembali kepada pelanggan bengkel tersebut.
"Pernah dulu ditawari oli itu, tapi saya tidak mau, takut pelanggan kecewa. Lagi pula olinya tidak bagus, bikin rusak mesin," ungkap pemilik bengkel yang tidak bersedia mempublikasikan namanya ini.
Berdasarkan pengakuannya, oli tersebut dijual per drum. Satu drum berisi sekitar 120 liter oli mesin tanpa merek. Sang penjual dari awal ketika menawari produk tersebut, mengakui kalau oli itu merupakan oli rekondisi. Sejak saat itu, bengkel ini tidak lagi ditawari sang penjual.
"Sejak saya tolak itu, tidak lagi ditawari. Sudah lama, yang jelas tidak tahun ini, harganya juga tidak ingat lagi, karena saya tidak berminat," ujarnya kembali mengingat kejadian itu.
Oli tanpa merek dagang ini diakuinya memiliki kualitas jauh di bawah oli asli bermerek. Jangka waktu pemakaian oli asli bisa hingga satu bulan, sebelum diganti dengan yang baru. Oli rekondisi tanpa merek biasanya berumur lebih pendek, satu hingga dua minggu.
Dampak pemakaiannya terhadap sepeda motor biasanya akan lebih cepat rusak, terutama pada bagian mesin.
"Kalau asli biasanya sampai sebulan, tapi kalau yang tanpa merek paling dua minggu sudah tidak nyaman lagi berkendara, mesin jadi cepat panas," ungkap mekanik di bengkel yang berada di kawasan Sekip tersebut.
Temuan Pertamina
Sales Eksekutif General PT Pertamina Retail Regional II, Komang Wira Kardita, mengatakan, sesuatu yang menguntungkan berpotensi besar dipalsukan. Awal tahun ini pihaknya menemukan penampungan oli palsu berbagai merek di Lampung. Indikasi peredaran di Sumsel juga ada.
Cara pendistribusian oli palsu yang diketahui PT Pertamina ialah bekerjasama dengan pedagang besar. Lalu dua atau tiga botol oli palsu disisipkan di antara oli asli dalam kemasan kardus.
"Untuk mencegah terjadinya pemalsuan itu, PT Pertamina Pelumas terus melakukan pengawasan dan pemeriksaan secara acak produk yang dijual di bengkel dan pasar," kata Komang.
Upaya lain yang telah dimulai sejak enam bulan lalu dengan pemberian reward berupa uang tunai untuk setiap guntingan botol oli yang dikumpulkan. Botol ukuran 4 liter dibayar Rp5 ribu dan botol ukuran 1 liter dibayar Rp 1.000.
"Di Sumsel belum ada komplain, tetapi indikasi pemalsuan oli tetap ada. Pengumpulan potongan botol merupakan upaya meminimalisir pemalsuan. Botol yang rusak tentu tidak bisa dipakai lagi," jelas Komang.
Untuk menghindari produk palsu, Komang mengimbau kepada masyarakat agar membeli pelumas di outlet resmi atau bengkel langganan. Jangan membeli produk yang memiliki selisih harga sangat jauh dan mengamati ciri fisik pada masing-masing merek.
Untuk pelumas Pertamina, ada pengaman produk berupa delapan digit nomor batch yang sama antara di tutup dan leher botol.
Menurut Komang, PT Pertamina memiliki lebih dari 10 merek pelumas. Apabila dikelompokkan, ada tiga merek utama untuk mobil bensin yakni Mesran Super, Prima XP dan Fastron. Kelompok mobil diesel ada Meditran S40, Meditran SC, dan Meditran SX. Sedangkan pelumas motor ada Enduro 4T, Enduro Racing, dan Enduro Matic.
Penjualan pelumas sejak 2009 hingga 2012 rata-rata mengalami kenaikan 5 persen. Pendistribusian di Sumsel dilakukan oleh tujuh distributor utama. Dari sana lalu diteruskan ke grosir atau langsung ke bengkel.
"Khusus untuk oli bekas, kami tak memiliki hak untuk mengelolannya. Ada beberapa perusahaan yang mendapat izin mengelola oli bekas itu untuk menjadi oli daur ulang dengan kualitas berbeda," kata Komang.
Menanggapi beredarnya oli palsu, PT Astra Internasional Tbk Honda Kantor Wilayah Sumatera Selatan berharap aparat penegak hukum menindas tegas para pelaku dan meningkatkan pengawasan.
"Ini tugas aparat kepolisian mengawasinya. Pelaku harusnya ditangkap dan dihukum," tegas Kepala Wilayah PT Astra Internasional Tbk Honda Sumsel, Yohanes Kurniawan Arif Yunanto kepada Tribun Sumsel, Senin (10/12) di ruang kerjanya di Jl Jend Ahmad Yani.
Menurutnya, konsumen patut waspada memilih spare part dan oli untuk kebutuhan kendaraan. Tidak sembarangan memilih oli dan hanya menggunakan produk resmi yang dianjurkan produsen, seperti merek Honda Genuine Part akan memberikan kenyamanan penuh bagi pemilik kendaraan.
Untuk berjaga-jaga, ia mengimbau konsumen untuk melakukan kegiatan after sales, seperti perbaikan dan service di bengkel resmi yang telah ditetapkan. Bengkel ini menjamin keaslian dan mutu suku cadang yang dijual. Selain itu, layanan yang diberikan kepada konsumen sudah sesuai standart yang ditetapkan perusahaan.
Perusahaan juga tidak menyarankan pemilik kendaraan untuk menggunakan oli rekondisi non merek yang dijual secara literan, dari drum. Oli ini belum teruji kualitas dan mutunya.
(iam/wan)
Editor: Prawira Maulana

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas