Jumat, 3 Juli 2015

Menguak Napak Tilas Nabi Ibrahim AS

Jumat, 26 Oktober 2012 00:10

Menguak Napak Tilas Nabi Ibrahim AS
DOC TRIBUNSUMSEL
H HENDRA ZAINUDDIN MPDI

PADA setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha atau yang sering juga disebut hari raya kurban. Perayaan Idul Adha tidak terlepas dari perjalanan sejarah Nabi Ibrahim AS. Dalam berbagai penuturan sejarah, Nabi ibrahim AS dikenal sebagai Bapak Monotheisme karena beliau melalui penjelajahan intelektual dan spiritualnya telah mampu “menemukan Tuhan Yang Sebenarnya”, yakni Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam al-Qur’an Surat Al-An ‘Aam ayat 74–79 digambarkan pencarian “Tuhan Yang Sebenarnya” yang dilakukan Nabi Ibrahim AS. “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar; pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? “Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata” (74). “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin” (75).

“Ketika malam telah menjadi gelap, ia melihat bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam” (76). “Kemudian tatkala ia melihat bulan, ia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tepai setelah bulan itu terbenam ia berkata: sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk oang-orang yangsesat” (77). “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”.

Maka tatkala matahari itu terbenam, ia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku terlepas dari apa yang kamu persekutukan” (78). “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar (hanif) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (79).

Paradigma Ketuhanan

Monotheisme yang diajarkan Nabi Ibrahim AS secara revolusioner telah mengubah paradigma ketuhanan yang ada pada saat itu. Tuhan yang diperkenal oleh Nabi Ibrahim AS bukan sekedar tuhan suku, bangsa atau kelompok tertentu manusia. Namun Tuhan yang bersifat imanen dan sekaligus transenden yang begitu dekat, serta selalu menyertai semua aktivitas manusia. Dia bukanlah Tuhan yang sifat-sifat-Nya menjadi monopoli pengetahuan para tokoh agamawan, tetapi Tuhan manusia secara universal (Tuhan Seru Sekalian Alam).

Penemuan Nabi Ibrahim AS dengan “TUHAN SEBENARNYA” merupakan lembaran baru sejarah kepercayaan dan kemanusiaan. Dawam Rahardjo dalam bukunya Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci (1996:78) mengatakan bahwa bila dilihat dari perspektif sejarah setidaknya terdapat tiga ciri keistimewaan. Pertama, Nabi Ibrahim AS memperoleh pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa melalui suatu proses perjuangan berpikir dengan cara observasi dan penarikan kesimpulan dari pengamatannya tentang gejala alam dan kehidupan yang dilihatnya. Sehingga ia mampu memberikan argumentasi-argumentasi yang kemudian diungkapkan oleh kitab-kitab suci sesudahnya.

Halaman123
Editor: Ashari
KOMENTAR
berita POPULER
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas