A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Menguak Napak Tilas Nabi Ibrahim AS - Tribun Sumsel
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 23 Agustus 2014
Tribun Sumsel

Menguak Napak Tilas Nabi Ibrahim AS

Jumat, 26 Oktober 2012 00:10 WIB
Menguak Napak Tilas Nabi Ibrahim AS
DOC TRIBUNSUMSEL
H HENDRA ZAINUDDIN MPDI
Oleh H Hendra Zainuddin MPdI
Pimpinan Pesantren Aulia Cendekia Palembang

PADA setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha atau yang sering juga disebut hari raya kurban. Perayaan Idul Adha tidak terlepas dari perjalanan sejarah Nabi Ibrahim AS. Dalam berbagai penuturan sejarah, Nabi ibrahim AS dikenal sebagai Bapak Monotheisme karena beliau melalui penjelajahan intelektual dan spiritualnya telah mampu “menemukan Tuhan Yang Sebenarnya”, yakni Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam al-Qur’an Surat Al-An ‘Aam ayat 74–79 digambarkan pencarian “Tuhan Yang Sebenarnya” yang dilakukan Nabi Ibrahim AS. “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar; pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? “Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata” (74). “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin” (75).

“Ketika malam telah menjadi gelap, ia melihat bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam” (76). “Kemudian tatkala ia melihat bulan, ia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tepai setelah bulan itu terbenam ia berkata: sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk oang-orang yangsesat” (77). “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”.

Maka tatkala matahari itu terbenam, ia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku terlepas dari apa yang kamu persekutukan” (78). “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar (hanif) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (79).

Paradigma Ketuhanan

Monotheisme yang diajarkan Nabi Ibrahim AS secara revolusioner telah mengubah paradigma ketuhanan yang ada pada saat itu. Tuhan yang diperkenal oleh Nabi Ibrahim AS bukan sekedar tuhan suku, bangsa atau kelompok tertentu manusia. Namun Tuhan yang bersifat imanen dan sekaligus transenden yang begitu dekat, serta selalu menyertai semua aktivitas manusia. Dia bukanlah Tuhan yang sifat-sifat-Nya menjadi monopoli pengetahuan para tokoh agamawan, tetapi Tuhan manusia secara universal (Tuhan Seru Sekalian Alam).

Penemuan Nabi Ibrahim AS dengan “TUHAN SEBENARNYA” merupakan lembaran baru sejarah kepercayaan dan kemanusiaan. Dawam Rahardjo dalam bukunya Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci (1996:78) mengatakan bahwa bila dilihat dari perspektif sejarah setidaknya terdapat tiga ciri keistimewaan. Pertama, Nabi Ibrahim AS memperoleh pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa melalui suatu proses perjuangan berpikir dengan cara observasi dan penarikan kesimpulan dari pengamatannya tentang gejala alam dan kehidupan yang dilihatnya. Sehingga ia mampu memberikan argumentasi-argumentasi yang kemudian diungkapkan oleh kitab-kitab suci sesudahnya.

Kedua, Nabi Ibrahim AS menyebarkan dan memperjuangkan keyakinannya itu kepada berbagai bangsa dalam pengembaraannya dari Timur ke Barat, Utara, Selatan dan di tengah-tengah berbagai penjuru itu. Dan ketiga, Nabi Ibrahim adalah orang teruji dengan berbagai perintah dan karena itu ia dipilih sebagai pemimpin (imam) umat manusia (Q.S. 2:124). Bahkan ia bercita-cita agar ajaran yang disampaikan itu akan diteruskan oleh keturunannya, untuk itu ia berdo’a kepada Allah agar dikabulkan cita-citanya tersebut (Q.S. 2: 128).

Dengan keistimewaan itu, Nabi Ibrahim AS dijadikan panutan dan teladan untuk seluruh umat manusia. Keteladanan itu, antara lain, diwujudkan dalam bentuk ibadah kurban serta ibadah haji dan praktik-praktik ritualnya sebagai “napak tilas” Nabi Ibrahim AS yang mengalami berbagai peristiwa bersama istrinya Hajar dan putranya Isma’il.

Dua Momentum Umat

Perayaan Idul Adha mengandung dua momentum sejarah bagi umat Islam, yaitu sejarah kurban dan pelaksanaan ibadah haji. Episode sejarah ini semua dilakonkan oleh Nabi Ibrahim As, istrinya Siti Hadjar dan anaknya Isma’il. Kata kurban yang berasal dari bahasa Arab “qarab-yaqaribu-qaribun”, yang berarti dekat. Dalam terminologi Islam, kurban bermakna berusaha menyingkirkan semua hal yang dapat menghalangi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bila dilihat kilas balik sejarah, syariat kurban dalam Islam merupakan syariat yang awalnya terjadi masa Nabi Ibrahim AS yang diperintah Allah SWT untuk mengorbankan putra kesayangannya Isma’il. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama Ibrahim. Ibrahim berkata; Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!. Ia menjawab; Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan padamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia; Hai Ibrahim.

Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (Q.S. 37: 102-107).
Kutipan ayat al-Qur’an di atas menggambarkan ketaatan Nabi Ibrahim AS pada perintah Allah SWT dan sekaligus kepatuhan seorang anak yang sholeh kepada orang tuanya. Sikap berserah diri dengan penuh ikhlas, tulus dan damai pada Allah Ta’ala ini merupakan esensi ajaran monotheisme Nabi Ibrahim AS. Sikap demikian akan membawa dampak pembebasan dari semua bentuk pengingkaran terhadap harkat dan martabat kemanusiaan.

Selain itu, peristiwa “penyembelihan” Isma’il dapat dikatakan sebagai simbol pengendalian sifat-sifat kebinatangan yang ada diri manusia, di antaranya, kerakusan, egosentrisme, dan sejenisnya. Manusia tidak dibenarkan mengeksploitasi sesama manusia, penghinaan terhadap harkat-martabat manusia dan pembedaan manusia berdasarkan ras, kelas sosial, dan lainnya. Di hadapan Sang Khalik semua manusia memiliki derajat yang sama, yang membedakannya adalah kualitas ketaqwaannya.

Miliki Tanggungjawab

Karena itu, lakon Nabi Ibrahim AS dan putranya Isma’il mengandung makna agar manusia membangun suatu tatanan masyarakat yang egalitarian. Dalam masyarakat egaliter, setiap komponen masyarakat memiliki tanggung jawab moral dan sosial, sehingga tidak muncul sikap da tindakan otoriter. Implikasi semangat egaliter ini agar manusia menemukan harkat-martabat kemanusiaanya dan dapat mengembangkan semua potensinya secara wajar. Semangat ini akan melahirkan sifat saling tolong-menolong dan sikap solidaritas sosial yang tinggi.

Di samping itu, perayaan Idul Adha juga bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji. Sesungguhnya semua ritual ibadah haji, mulai dari niat, pakaian ihram, thawaf, sa’i, wukuf, dan melempar jumrah, semuanya mengandung dimensi ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan. Umat Muslim yang datang dari seluruh dunia berkumpul di “rumah Allah” dengan tujuan yang Satu yakni mengagungkan kebesaran dan ke-Esa-an Allah Ta’ala.

Oleh sebab itu, perayaan Idul Adha yang di dalamnya mengandung dua peristiwa besar, yaitu kurban dan ibadah haji pada prinsipnya tersimpul ajaran Bapak Monotheisme Nabi Ibrahim AS, yakni 1). Pengakuan akan ke-esa-an Allah serta penolakan terhadap semua bentuk kemusyrikan; 2). Keyakinan akan adanya neraca keadilan Ilahi dalam hidup ini dan puncaknya akan diperoleh setiap makhluk pada hari kebangkitan nanti; 3) menghapus tradisi pengorbanan manusia dan menggantikannnya dengan ibadah kurban; menyembelih hewan ternak (kambing, sapi, dan kerbau) untuk kaum dhuafa sebagai simbol solidaritas sosial; dan 4). Mewujudkan persaudaraan umat manusia.

Demikianlah, mudah-mudahan melalui Idul Adha akan semakin meningkatkan solidaritas sosial kita.Dan kepada saudara kita yang saat ini memenuhi panggilan dan menjadi tamu Allah, semoga mendapat haji yang mabrur. “Haji mabrur tidak lain balasannya adalah syurga” demikian sabda Nabi SAW. Amiin.
Editor: Ashari
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
16624 articles 72 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas